spot_img
Senin, Januari 19, 2026
spot_img
spot_img

Bansos Beras Pada 2026 di Berikan Dalam Bentuk 10 kilogram Beras Kepada Masyarakat Tidak Mampu

KNews.id – Jakarta 3 Januari 2026 – Perum Bulog akan kembali melanjutkan penyaluran bantuan pangan beras, atau dikenal sebagai bansos beras pada 2026. Program bantuan ini diberikan dalam bentuk 10 kg beras kepada masyarakat tidak mampu.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, pihaknya telah menyiapkan pasokan hingga 720 ribu ton beras, yang akan disalurkan kepada 18 juta penerima bantuan selama 4 bulan.

- Advertisement -

“Penyaluran bantuan pangan untuk 4 bulan tahun 2026 itu sekitar 720 ribu ton untuk 18 juta penerima bantuan penerima bantuan, bantuannya 4 bulan,” jelasnya di Kantor Pusat Perum Bulog, Jakarta, Jumat (2/1/2026).

Selain bantuan pangan, Bulog juga bakal kembali menyalurkan Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) atau beras murah sepanjang tahun ini. Bulog telah menyiapkan stok sebesar 1,5 juta ton untuk beras murah tersebut.

- Advertisement -

“Ini direncanakan sepanjang tahun nggak kayak kemarin, kalau kemarin kan udah putus-putus, betul enggak? Sehingga cuma ada 8 bulan kemarin kan. Nah ini harapannya untuk SPHP tahun 2026 itu sepanjang tahun,” bebernya.

Hanya saja, Rizal menyebut jumlah penyaluran beras murah ini akan dikurangi pada daerah sentra produksi seperti Jawa, Sumatera, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat (NTB) pada masa panen raya Maret, April, dan Agustus.

Dengan tujuan, agar stok beras murah tidak bertabrakan dengan beras yang telah dipanen. Sehingga penyaluran beras murah di tempat lain tetap berjalan.

“Tapi tetep dilakukan supaya tidak tumpah banyak di pasaran, tapi yang di daerah-daerah yang tidak sentra produksi pangan SPHP-nya tetep jalan seperti biasa, tapi khusus daerah-daerah sentra produksi pangan seperti Jawa, Sumatera, Sulawesi Selatan, NtB itu SPHP-nya dikecilkan volumenya, paham ya? tapi yang lain tetep berjalan seperti biasa,” tuturnya.

Bulog Serap 4,5 Juta Ton Gabah Petani di 2025, Rekor Tertinggi dalam Sejarah

Sebelumnya, Perum Bulog sukses meraih rekor tertinggi serapan gabah kering panen (GKP) di tingkat petani pada 2025. Hingga 31 Desember 2025, Bulog mencatat pengadaan beras nasional setara beras sebesar 3.191.969 ton, yang berasal dari penyerapan 4.537.490 ton GKP, 6.863 ton gabah kering giling (GKG), dan 765.504 ton beras.

- Advertisement -

“Pengadaan beras nasional, yaitu pengadaan gabah kering panen (GKP) di 2025, ini pengadaan yang tertinggi selama Bulog berdiri dari tahun 1968,” ujar Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani di kantornya, Jakarta, Jumat (2/1/2025).

Selain beras, Bulog pada 2025 juga mencatat pengadaan jagung dalam negeri sebesar 101.968 ton. Terdiri atas 101.770 ton melalui skema PSO dan 198 ton komersial.

Di sisi distribusi, Bulog telah menyalurkan bantuan pangan hampir 785 ribu ton sebagai perlindungan sosial bagi masyarakat rentan. Sementara penyaluran bansos beras dalam program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan +(SPHP) menyentuh angka 795 ribu ton, dan SPHP jagung sebesar 51.211 ton.

“Intervensi pasar melalui SPHP kami lakukan secara terukur dan terawasi. Tujuannya jelas, menjaga stabilitas harga tanpa merusak mekanisme pasar, sekaligus melindungi konsumen dan petani,” imbuh Rizal.

Dalam upaya memperluas akses pangan terjangkau, Bulog bersama Kementerian Pertanian (Kementan) dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) pada tahun lalu juga menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) Serentak di 4.337 titik di seluruh Indonesia.

3,2 Juta Ton Beras PSO

Dari sisi kesiapan cadangan hingga akhir 2025, stok beras untuk public service obligation (PSO) Bulog tercatat sebesar 3,25 juta ton. Melanjutkan tren positif setelah pencapaian stok tertinggi sepanjang sejarah sekitar 4,2 juta ton pada pertengahan 2025.

Di sisi lain, Bulog juga menyalurkan bantuan bencana sebesar 14.227 ton beras di wilayah Sumatera yang terdampak bencana. Dengan distribusi mencakup Aceh sebesar 8.676 ton, Sumatera Utara 4.482 ton, dan Sumatera Barat 1.069 ton.

“Ketahanan pangan juga berarti kesiapan negara hadir dalam kondisi darurat. Bulog memastikan bantuan bencana tersedia, cepat, dan tepat sasaran,” sambung Rizal.

Langkah Strategis di 2026

Memasuki 2026, Bulog menyiapkan langkah strategis utama berupa penugasan penyerapan gabah/beras setara 4 juta ton. “Ini adalah upaya konkret negara untuk memastikan hasil panen petani terserap optimal, harga terjaga, dan cadangan pangan nasional semakin kuat,” ujar Rizal.

Selain itu, Bulog berencana pembangunan 100 infrastruktur pasca panen guna memperkuat pengelolaan hasil pangan dari hulu ke hilir. “Penguatan infrastruktur pasca panen adalah investasi strategis. Kami ingin hasil produksi petani tidak hanya terserap, tetapi juga terjaga mutunya dan memiliki nilai tambah,” pungkasnya.

(FHD/Lpt)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini