KNews.id – Jakarta 2 Januari 2026 – PT Pelindo Solusi Logistik (SPSL) kembali menegaskan komitmennya terhadap dorongan pemberdayaan dan kemandirian penyandang disabilitas melalui pelaksanaan Program Pijat Netra Bardikari atau PIJAR Vol. 2 atau Fase ke 2 Tahun 2025.
Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), ini dilaksanakan dengan kerjasama bersama PT Indonesia Kendaraan Terminal TBK (IPCC), PT Regional 2, serta PT Pelindo Regional 2 Tanjung Priok.
Di fase kedua tersebut, Program PIJAR diperkuat dengan penyediaan fasilitas praktik pijat netra di Terminal Penumpang Nusantara Pelabuhan Tanjung Priok. Fasilitas tersebut hadir guna untuk meningkatkan aksesibilitas layanan, memperluar peluang praktik bagi penyandang tuna netra, serta mendukung peningkatan kualitas pelayanan terhadap pengguna jasa pelabuhan.
Program PIJAR juga telah dimulai sejak ahun 2024 sebagai bentuk inisiatif TJSL SPSL yang berfungsi pada pelatihan keterampilan pijat bagi penyandang tuna netra.
Dengan kolaborasi bermasa IPCC dan Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni), program ini memberikan juga pelatihan, sertifikasi pijat profesional, dan dukungan sarana dan prasarana penunjang guna untuk mendorong kemandirian ekonomi para pesertanya.
Senior Vice President Sekretariat Perusahaan PT Pelindo Solusi Logistik, Dewi Fitriyani, menyampaikan kalau keberlanjutan Program PIJAR tersebut mencerminkan komitmennya perusahaan dalam menghadirkan program TJSL yang dampaknya nyata dan berkeleanjutan.
“Program PIJAR bukan hanya tentang pelatihan, tetapi tentang membuka akses, menciptakan kesempatan, dan membangun kemandirian. Melalui penyediaan fasilitas praktik di ruang publik seperti terminal penumpang, kami ingin memastikan bahwa penyandang tuna netra memiliki ruang untuk berdaya, berkarya, dan diakui secara profesional,” ujar Dewi, melansir Antara, Rabu (31/12/2025).
Disambut Antusias, PIJAR Jadi Simbol Kemandirian Disabilitas
Terminal Penumpang Nusantara dipilih karena memiliki aktivitas yang sangat tinggi, khususnya di periode angkutan Natal dan Tahun Baru, dimana mobilitas penumpang kapal dan pekerjanya meningkat signifikan.
Kehadiran layanan pijat netra diharapkan dapat menjadikan bagian dari peningkatan kenyamanan penumpang, sekaligus membuka juga peluang ekonom yang berkelnjutan bagi para peberina manfaat Progran PIJAR.
Dewi juga mendambakan bahwa sinergi antara SPSL, entitas Pelindo Group, pemagku kepenntingan, serta komunitas menjadi sebuah kunci dalam menciptakan perubahan yang berkelajutan dan berdampak bagi masyarakat.
Pelaksanaan Program Pijar Vol. 2 ini mendaparkan sambutan positif dari para penerima manfaat. Basuki Mustofa (40) adalah satu peserta dalam Program PIJAR, mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut memberikan peluang yang sangat nyata bagi penyandang tuna netra untuk lebih mandiri.
“Saya mewakili rekan-rekan penerima manfaat Program PIJAR mengucapkan terima kasih kepada Pelindo yang telah menggandeng kami, para penyandang disabilitas, untuk terlibat dalam program ini,” ucap Basuki.
“Bagi kami, PIJAR bukan hanya pelatihan, tetapi juga kesempatan untuk bekerja, berusaha, dan dihargai. Kami berharap kemitraan ini dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak teman-teman tuna netra, khususnya di wilayah Jakarta Utara,” sambung dia.
Kata Penumpang
Sumitra (63) salah satu penumpang kapal yang merasakan langsung layanan pijat netra di Terminal Penumpang Nusantara ini menyampaikan apresiasinya terhadap program yang hadir tersebut.
“Bagi kami yang akan melakukan perjalanan jauh, layanan pijat ini sangat membantu untuk merelaksasi tubuh sebelum berangkat. Pelayanannya baik dan membuat badan terasa lebih segar,” kata dia.
“Apalagi saat ini program ini gratis dan ada promo atau diskon untuk beberapa hari ke depan, sehingga sangat bermanfaat bagi penumpang,” tutur Sumitra.
Program PIJAR Vol. 2 ini sejalan dengan pencapaian tujuam Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 1 tentang penghapusan kemiskinan, SDGs 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi.
Serta ada SDGs 10 tentang pengurangan ketimpangan, dengan melalui keberlanjutan Program PIJAR, SPSL berharap dapat terus memperluas jangkaunnya ke berbagai wilayah di Indonesia, sehingga semakin banyak juga penyandang tuna netra yang mendapatkan manfaat dan kesempatan untuk hidup lebih mandiri dan bermatabat.
“Program PIJAR kami yakini dapat menjadi sebuah sinergi dan kolaborasi untuk bersama-sama membangun ekosistem yang inklusif dan berkeadilan, di mana setiap individu memiliki kesempatan yang setara untuk tumbuh dan berkontribusi,” tutup Dewi.




