KNews.id – Jakarta 1 Januari 2026 – Perasaan bahwa hari-hari berlalu kian cepat bukan sekadar keluhan modern manusia. Dalam ajaran Islam, fenomena waktu yang terasa singkat justru disebut sebagai salah satu tanda mendekatnya hari kiamat, sebagaimana telah disampaikan Rasulullah ﷺ berabad-abad silam.
Diriwayatkan dari beliau radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ فَتَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ، وَيَكُونَ الشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ، وَتَكُونَ الْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ، وَيَكُونَ الْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ، وَتَكُونَ السَّاعَةُ كَاحْتِرَاقِ السَّعَفَةِ.
“Tidak akan tiba hari Kiamat hingga zaman berdekatan, setahun bagaikan sebulan, sebulan bagaikan sepekan, sepekan bagaikan sehari, sehari bagaikan sejam dan sejam bagaikan terbakarnya pelepah pohon kurma.” (HR Ahmad dan Tirmidzi).
Para ulama berbeda pendapat tentang arti lafal taqārub az-zamān (waktu menjadi pendek) dalam hadis di atas. Di antara penjelasan yang dikemukakan adalah berkurangnya keberkahan waktu dan umur manusia.
Sebagian ulama lainnya memaknai cepatnya waktu berlalu sebagai dampak perkembangan sarana transportasi dan komunikasi, sehingga jarak terasa semakin dekat dan aktivitas manusia semakin padat.
Dalam hadits lain, Nabi ﷺ bersabda:
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَظْهَرَ الْفِتَنُ، وَيَكْثُرَ الْكَذِبُ، وَيَتَقَارَبَ اْلأَسْوَاقُ
“Hari kiamat tidak terjadi hingga fitnah tersebar, kebohongan merajalela, dan pasar-pasar saling berdekatan.” (HR Ahmad).
Selain itu, tanda lain yang disebutkan Rasulullah ﷺ adalah maraknya perzinaan. Dalam hadis yang diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Amr disebutkan:
عن عبدالله بن عمرو قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لا تقوم الساعة حتى يتسافدوا في الطريق تسافد الحمير. قلت: إن ذلك لكائن؟! قال : نعم ليكونن
“Tidak akan datang hari kiamat hingga manusia melakukan zina di jalan seperti keledai.” Aku bertanya, “Apakah itu benar-benar akan terjadi?” Rasulullah menjawab, “Ya, sungguh itu akan terjadi.” (HR Ibn Hibban, al-Bazzar, dan al-Tabarani; hadis sahih).
Menjelaskan makna hadits tersebut, Ulama Al-Azhar Mesir, Abu Yazid Salamah, sebagaimana dikutip Masrawy pada Jumat (21/1/2023), mengatakan bahwa hadis ini menggambarkan tanda-tanda akhir zaman berupa hilangnya rasa malu, menyebarnya kebodohan, serta terbukanya syahwat manusia secara berlebihan. Bahkan, sebagian manusia terjatuh dalam perbuatan keji tanpa merasa bersalah di hadapan orang lain.
Abu Salamah menegaskan, kondisi ini menunjukkan minimnya rasa malu dan meluasnya kerusakan moral. Namun, hal tersebut tidak berarti orang-orang saleh telah punah. Yang terjadi adalah suara para ulama dan orang berilmu tidak lagi didengar akibat dominasi kebodohan dan kecintaan berlebihan pada kesenangan dunia.
Karena itu, ia berpesan agar masyarakat memberi perhatian serius pada pendidikan agama dan akhlak, khususnya bagi generasi muda, serta memperkuat peran ulama dalam membimbing umat agar tidak terjerumus pada pemikiran dan perilaku menyimpang.
Setiap kehidupan pasti akan berakhir dengan kematian. Dunia beserta seluruh isinya kelak akan hancur saat kiamat tiba, sebagai penutup kehidupan duniawi. Pada hari itu, seluruh manusia akan dibangkitkan untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatannya selama hidup di dunia.
Rasulullah ﷺ sendiri telah menegaskan kedekatan masa diutusnya dengan hari kiamat. Beliau bersabda, “Aku diutus dan jarakku dengan kiamat seperti dua jari ini,” sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya. (HR al-Bukhari dan Muslim).
Berikut ini tiga hadits yang menjelaskan tanda-tanda semakin dekatnya hari kiamat.
Tiga Hadits Tanda Kiamat Makin Dekat
إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ لَأَيَّامًا يَنْزِلُ فِيهَا الْجَهْلُ وَيُرْفَعُ فِيهَا الْعِلْمُ ، وَيَكْثُرُ فِيهَا الْهَرَجُ ، وَالْهَرَجُ : الْقَتْلُ . (رواه البخاري عن أبي موسى وعبد الله بن مسعود)
Sesungguhnya sebelum hari kiamat datang, ada hari-hari di mana kebodohan akan marak, ilmu akan menghilang, dan pembunuhan merajalela. (Riwayat al-Bukhari dari Abu Musa dan ‘Abdullah bin Mas’ud)
إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ، وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ، وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ، وَيَظْهَرَ الزِّنَا. (أخرجه البخاري عن أ)
Di antara tanda-tanda hari kiamat ialah menghilangnya ilmu, banyaknya kebodohan, maraknya minuman keras, dan banyaknya perzinaan. (Riwayat al-Bukhari dari Anas)
يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ ، وَيَنْقُصُ الْعَمَلُ وَيَلْقَى الشُّحَّ ، وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ ، وَيَكْثُرُ الْهَرَجُ ، قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَيُّمَ هُوَ؟ قَالَ : الْقَتْلُ الْقَتْل. (أخرجه البخاري عن أبي هريرة)
Waktu akan berdekatan, pengamalan ilmu sedikit, kekikiran merebak, fitnah merajalela, dan pembunuhan (al-haraj) makin marak. Para sahabat bertanya, “Apakah al-Haraj itu, wahai Rasulullah?”
Nabi Muhammad menjawab, “Pembunuhan, pembunuhan.” (Riwayat al-Bukhari dari Abu Hurairah).
Dari tiga hadis di atas, ada beberapa hal yang perlu diberi penjelasan. Yang dimaksud menghilangnya ilmu dan maraknya kebodohan tentu bukanlah ilmu umum. Itu karena saat ini orang yang ahli dalam bidang teknologi dan lainnya semakin banyak. Jika begitu maka yang dimaksud pastilah ilmu agama.
Untuk itu para ulama mengartikan menghilangnya ilmu dengan berkurangnya pengamalan ajaran agama. Ada juga yang mengartikan banyaknya ulama yang wafat, sementara generasi berikutnya tidak bisa mencapai taraf keilmuan generasi sebelumnya. Akibatnya, terjadilah kebodohan di mana-mana.
Pada akhirnya masyarakat menanyakan masalah-masalah yang berkaitan dengan agama kepada orang yang bukan ahlinya. Dari sinilah timbul kekacauan dalam berfatwa yang bermuara pada kesesatan dan penyesatan.
Dalam sebuah hadis dijelaskan seperti ini.
إِنَّ اللهَ تَعَالَى لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَبْقَ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوسًا جُهَالًا فَسُئِلُوْا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوْا وَأَضَلُّوْا . (أخرجه البخاري ومسلم عن عبد الله بن عمرو )
Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu begitu saja dari hamba-hambanya, tapi dengan mewafatakan para ulama. Akhirnya, ketika tidak ada lagi seorang alim, masyarakat mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Ketika ditanya, mereka akan menjawab tanpa didasari ilmu, dan jadilah mereka sesat dan menyesatkan. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari ‘Abdullah bin ‘Amr)
Banyaknya kematian atau pembunuhan. Ini bisa dirasakan pada masa setelah Nabi Muhammad SAW wafat terjadi peperangan di antara kaum Muslim sendiri. Dewasa ini, peperangan antara satu bangsa dengan lainnya pun makin marak. Nyawa manusia pada akhir zaman seakan tidak lagi bermakna, begitu murah.
Kemudian, luasnya peredaran minuman keras dan perzinaan. Ini terbukti dengan merebaknya minuman keras dan narkoba yang bahkan menjadi persoalan besar masyarakat dunia, begitu juga dengan merebaknya perzinaan. Banyak media yang menyuguhkan foto-foto porno. Persoalan ini tidak lagi dipandang sebagai perbuatan dosa besar, tapi sudah menjadi kebiasaan di mana-mana.
Terakhir, banyaknya fitnah. Fitnah di sini bermakna gesekan besar dalam kehidupan seseorang sehingga agama seringkali dilepaskan begitu saja tanpa beban.
Dalam hadis dijelaskan seperti ini.
بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنَّا كَقَطْعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا ، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا. (أخرجه مسلم عن أبي هريرة)
Bergegaslah berbuat baik, karena akan terjadi banyak fitnah seperti potongan malam yang gelap. Ada seorang yang paginya masih mukmin, sorenya telah menjadi kafir, atau sorenya masih mukmin, dan paginya sudah menjadi kafir. la menjual agamanya untuk mendapat kekayaan duniawi. (Riwayat Muslim dari Abu Hurairah)
Demikian penjelasan Tafsir Ilmi: Kiamat Dalam Perspektif Alquran dan Sains yang disusun Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).




