KNews.id – Jakarta – Umat Islam di Indonesia bersinggungan langsung dengan dua dua sistem penanggalan sekaligus: Hijriyah dan Masehi. Karena itu, jelang pergantian tahun 2025 ke 2026 ini, muslim perlu mengetahui perbedaan tahun baru hijriyah dan tahun baru masehi dalam Islam.
Merujuk studi Sistem Perhitungan Kalender Hijriah dan Kalender Umat Islam di Indonesia, UIN Suska, meski keduanya berfungsi sebagai penanda waktu, Islam memandang penanggalan Hijriyah bukan sekadar angka, melainkan simbol identitas spiritual dan penanda sekaligus panduan waktu ibadah.
Memahami perbedaan antara keduanya sangat penting agar umat dapat menempatkan perayaan dan ibadah pada porsinya yang tepat. Perbedaan antara Tahun Baru Hijriyah dan Masehi terletak pada aspek sejarah, teknis, dan esensi spiritualnya.
Berikut ini adalah perbedaannya:
1. Tanggal Awal Tahun
Tahun baru Masehi diawali tanggal 1 Januari. Waktu satu tahun Masehi akan berlangsung sejak Januari sampai 31 Desember. Kemudian masuk ke tahun berikutnya yang diawali dari 1 Januari.
Adapun tanggal pertama tahun Hijriyah adalah 1 Muharram. Satu tahun Hijriyah berlangsung selama 12 bulan hingga tanggal terakhir Dzulhijjah.
2. Waktu Pergantian Tahun
Waktu pergantian tahun Masehi terjadi pada pukul 00.00. Jangan heran kalau banyak orang yang rela menunggu pergantian tahun hingga tengah malam. Berbeda dengan tahun baru Hijriyah. Waktu pergantian tahun Hijriyah terjadi pada waktu maghrib atau saat matahari terbenam.
3. Sistem Pergantian Tahun
Kalender Masehi dihitung berdasarkan pergerakan matahari terhadap bumi. Sedangkan kalender Hijriah berdasarkan pergerakan bulan terhadap bumi. Oleh karena itu, satu tahun kalender Masehi dihitung berdasarkan durasi waktu yang dihabiskan bumi untuk mengelilingi matahari, yaitu sepanjang 365 hari atau 366 hari.
Sementara itu, satu tahun kalender Hijriyah berdasarkan durasi waktu yang dihabiskan bulan untuk mengelilingi bumi selama setahun. Satu tahun Hijriyah bisa mencapai 354-355 hari.
4. Tidak Pernah Terjadi di Waktu yang Sama
Mengingat cara perhitungan banyaknya hari selama satu tahun Masehi dan Hijriyah berbeda, maka perayaan tahun baru kedua kalender ini tidak pernah terjadi di hari yang sama.
Sebagai contoh, tahun baru 1445 Hijriyah bertepatan pada Selasa, 18 Juli 2023. Sedangkan, tahun baru Masehi bertepatan pada Senin, 1 Januari 2023.
5. Pengamalan Doa dan Maknanya
Setiap tahun baru Masehi tidak ada anjuran khusus untuk membaca doa akhir maupun awal tahun. Namun, pada tahun baru Hijriyah terdapat doa khusus akhir dan awal tahun sebagaimana yang dilakukan banyak ulama.
Faisal Ismail menekankan bahwa bagi Muslim, Tahun Baru Hijriyah adalah momentum transformasi dari keburukan menuju kebaikan, bukan sekadar perayaan seremonial.
6. Perayaan
Tahun baru Masehi kerap dirayakan oleh semua umat manusia, mengingat sistem penanggalannya banyak digunakan di berbagai negara dan menjadi kalender universal oleh sebagian besar masyarakat di seluruh dunia.
Sementara, tahun baru Hijriyah lebih khusus dirayakan oleh umat Islam. Tahun baru Hijriyah mengingatkan Muslim pada peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW dan para sahabat dari Makkah ke Madinah.
Syaikh Sholeh Al- Fauzan Hafizhohullah sebagaimana dikutip laman Kemenag Aceh, perayaan tahun baru itu termasuk merayakan yang tidak disyariatkan. Karena hari raya kaum muslim hanya ada 2 (dua), yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.
7. Penggunaan dalam Kehidupan Umat Islam
Ibadah:
- Hijriyah: Puasa Ramadan, Idul Fitri, Idul Adha, bulan haram.
- Masehi: Tidak terkait langsung dengan ibadah wajib.
Administrasi Sipil
- Hijriyah: Terbatas pada hari libur keagamaan resmi
- Masehi: Digunakan secara nasional dan internasional.
Kegiatan Sehari-hari
- Hijriyah: Untuk acara keagamaan dan tradisi Islam.
- Masehi: Untuk aktivitas umum: pendidikan, bisnis, pemerintahan.
Penanggalan Resmi
- Hijriyah: Di Indonesia digunakan bersama kalender Masehi.
- Masehi: Kalender resmi negara dan dunia internasional.




