spot_img
Selasa, Februari 17, 2026
spot_img
spot_img

Prabowo Presiden Yang Tersandera

Oleh : Sutoyo Abadi

KNews.id – Jakarta, Xi Jinping dua kali bertemu Prabowo dan menyebut Prabowo  sebagai Elected President Jokowi, saat kunjungan pertama  ke China, 31 Maret – 2 April 2024 dan kunjungan ke kedua 8 _ 10 November 2024.

- Advertisement -

“Prabowo  didepan Xi Jinping seperti ikrar : Saya mendukung yang lebih dekat dan lebih berkualitas antara China dan Indonesia. Pencapaian beliau ( Jokowi ) akan jadi pedoman program saya. Saya akan melanjutkan kebijakan Presiden Joko Widodo dan juga pencapaian pemimpin China”

Dari sinilah muncul pertemuan Prabowo Subianto dengan Jokowi pada tanggal 13 Oktober 2024 dikediaman Jokowi di Solo, antara lain : Menitipkan orang orangnya masuk dalam Kabinet Merah Putih, Jokowi meminta Prabowo untuk tidak mengubah atau mengganggu program oligarki yang telah mendapatkan persetujuan Xi Jinping ( RRC ). Apabila point itu diganggu, maka oligarki akan menggangu dan atau akan merusak  ekonomi negara.

- Advertisement -

Munculnya statement bahwa Presiden Prabowo dikendalikan Geng Solo ( Jokowi ), adalah tidak tepat, bahkan bisa menyesatkan dan mengaburkan atas kejadian yang sebenarnya pada Presiden Prabowo karena sejak awal sudah ada kesepakatan Prabowo dengan Xi Jinping , maka sesungguhnya Xi Jinping-lah yang mengendalikan Presiden Prabowo. Jokowi sejak jadi Presiden tidak lebih hanya sebagai boneka yang diremote oligark dan Xi Jinping

Perhatikan Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan kasus Morowali tidak koordinasi dengan Presiden Prabowo malah mengaku telah berkoordinasi langsung dengan sosok yang ditunjuk Presiden China Xi Jinping yaitu Wang Yihan yang menjadi mitra utama Indonesia dari China. Apa kepentingannya ?.

Oligark di Indonesia otomatis yang tidak dalam kendali Xi Jinping bahwa : mereka sudah menguasai Indonesia, mereka bisa melakukan apapun dan kepada siapapu di Indonesia – tidak ada lagi yg dengan Prabowo Subianto, bisa menghalangi dan tidak takut kepada siapapun, semua aparat dan pejabat mereka sudah beli dan bisa atur.

Rasa percaya diri yang sangat besar karena kalau terjadi sesuatu yang membahayakan Oligarki dipastikan Cina akan melakukan dukungan militer untuk melindunginya.

Keadaan semakin rumit ternyata AS dan RRC secara kompak menerapkan Ideologi Freemasonry ( penggabungan kekuatan Kapitalis dan Komunis ) dengan Sandiwara seakan-akan AS kontra China padahal masih  satu tujuan juga untuk “menguasai” Indonesia.

Kelompok kepentingan AS dan Cina, memiliki jaringan yang sangat besar . Kekuatan inilah yang mampu mengangkat Prabowo jadi  presiden sekaligus mampu mampu merongrong dan  menjatuhkannya, Prabowo adalah presiden yang tersandera.

- Advertisement -

Para menteri titipan Jokowi adalah instrumen untuk melakukan gangguan, merongrong dan memakzulkan Prabowo kalau sudah tiba waktunya. Kabinet Merah Putih sekitar 60 % diisi menteri sebagai jongos Oligarki.

Sudah di prediksi karena Oligarki mulai merasa terancam oleh kebijakan Presiden Prabowo tidak ada cara lain Prabowo harus di rongrong, dihancurkan bahkan harus di makzulan.

Presiden tampak tidak berdaya sekedar mengganti Kapolri yang sudah dua kali menabrak kebijakan Presiden. Apalagi mereshuffle kabinet pemerintahannya yang sebagian sebagai benalu dan perusak dari dalam.

Jika Prabowo tak bisa keluar dari situasi tersebut, menyerah dan pasrah pada kekuasaan distorsi tersebut benar-benar bisa lebih cepat dipentalkan dari kekuasaan di tengah jalan.

Dalam perjalannya Presiden Prabowo tetap dalam kendali 3 ( tiga ) kekuatan besar, Cina, AS dan Oligark yang sudah tandem dalam menguasai Indonesia. Jokowi tetap di fungsikan sebagai jongos tetapi tidak dominan selain hanya sebagai mediator atau boneka.

(FHD/NRS)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini