spot_img
Selasa, Januari 27, 2026
spot_img
spot_img

Islandia Jadi Negara Kelima yang Boikot Kontes Lagu Eurovision, Alasannya Karena Partisipasi Israel

KNews.id – RUV, lembaga penyiaran nasional Islandia, mengatakan pada hari Rabu (10/12/2025) bahwa mereka akan memboikot Kontes Lagu Eurovision tahun depan karena perselisihan terkait partisipasi Israel. Keputusan itu membuat Islandia bergabung dengan empat negara lain yang melakukan aksi keluar dari kompetisi musik tingkat Eropa tersebut.

Penyiar di Spanyol, Belanda, Irlandia, dan Slovenia minggu lalu memberi tahu penyelenggara kontes, European Broadcasting Union (EBU), bahwa mereka tidak akan ikut serta dalam kontes di Wina pada bulan Mei. Keputusan ini diambil setelah EBU menolak mengeluarkan Israel atas perang yang dilancarkannya di Gaza.

- Advertisement -

Pada akhir pertemuan dewan RUV, lembaga tersebut seperti dikutip Associated Press menyampaikan, “Melihat perdebatan publik di negara ini … jelas bahwa tidak akan ada kegembiraan maupun kedamaian terkait partisipasi RUV dalam Eurovision. Oleh karena itu, kesimpulan RUV adalah memberi tahu EBU hari ini bahwa RUV tidak akan ikut serta dalam Eurovision tahun depan.”

“Kontes Lagu Eurovision selalu bertujuan menyatukan bangsa Islandia, tetapi kini jelas bahwa tujuan itu tidak dapat tercapai. Karena alasan terkait, keputusan ini pun diambil.”

- Advertisement -

Minggu lalu, majelis umum EBU — sebuah kelompok penyiar publik dari 56 negara yang menjalankan Eurovision — bertemu untuk membahas kekhawatiran mengenai partisipasi Israel. Para anggotanya memilih untuk mengadopsi aturan pemungutan suara yang lebih ketat sebagai tanggapan atas tuduhan bahwa Israel memanipulasi suara demi mendukung pesertanya.

Aksi keluar ini melibatkan beberapa negara besar di Eurovision. Spanyol adalah salah satu dari “Lima Besar” yang memberi kontribusi besar bagi kontes, sementara Irlandia sudah tujuh kali menjadi juara — rekor yang sama dengan Swedia.

Islandia — negara kepulauan vulkanik di Atlantik Utara dengan populasi 360.000 — belum pernah menang, tetapi memiliki jumlah penonton terbanyak per kapita dibandingkan negara mana pun.

Gelombang aksi keluar tersebut menimbulkan bayang-bayang suram atas masa depan acara yang dimaksudkan sebagai pesta budaya bernuansa ceria, penuh persaingan bersahabat, dan irama musik yang meriah. Dampaknya terasa bagi para penggemar, penyiar, dan pendanaan penyelenggaraan kontes tersebut.

Perang Membawa Perubahan

Kontes yang akan berusia 70 tahun pada 2026 itu berupaya menjaga agar musik tetap menjadi fokus, bukan politik, tetapi berulang kali terseret dalam peristiwa dunia. Rusia dikeluarkan pada 2022 setelah invasinya secara besar-besaran ke Ukraina.

- Advertisement -

Selama dua tahun terakhir, kontes itu juga diguncang oleh perang di Gaza, yang memicu protes di luar arena dan memaksa penyelenggara menindak keras pengibaran bendera politik.

Perang di Gaza telah menewaskan lebih dari 70.000 warga Palestina.

Pemerintah Israel berulang kali membela aksinya sebagai respons atas serangan militan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023. Dalam serangan itu, Israel mengklaim para militan membunuh sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 orang.

Sejumlah pakar, termasuk yang ditunjuk oleh sebuah badan PBB, menyatakan bahwa serangan Israel di Gaza merupakan tindakan genosida — sebuah klaim yang dibantah keras oleh Israel.

Hari Rabu menandai batas waktu bagi penyiar nasional untuk mengumumkan apakah mereka berencana ikut serta. Lebih dari dua lusin negara telah mengonfirmasi keikutsertaan mereka dalam kontes di Wina dan EBU mengatakan bahwa daftar final negara peserta akan dipublikasikan sebelum Natal.

(FHD/Lpt)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini