Oleh : Sutoyo Abadi
KNews.id – Rabu, 10/12/2024 ( malam Kamis ) Kajian Politik Merah Putih, kembali berdiskusi dengan Thema “Racun ( Toksit ) Musuh Dalam Selimut”
Poin-poin yang muncul dalam diskusi tersebut:
Masih segar dalam ingatan kita, tipuan musuh dalam selimut, terindikasi figuran tersebut adalah di LBP dkk. Contoh LBP sebagai inisiator membuat bandara di Morowali tanpa kehadiran negara juga berencana akan membentuk family office di Indonesia.
Family office adalah perusahaan swasta yang menangani manajemen investasi dan manajemen kekayaan untuk keluarga kaya. Ini bertujuan untuk menumbuhkan dan mentransfer kekayaan secara efektif antar generasi.
Pertanyaannya antar gerasi siapa?
Ini tipuan maut oleh LBP sebagai inisiator mengusulkan pembentukan family office agar orang kaya dari luar negeri mau menaruh uang di Indonesia. Sama sekali tidak terbaca kaitannya dengan ekonomi rakyat yang kembang kempis.
Begitu menyederhanakan masalah, LBP mengklaim keluarga kaya di luar negeri tertarik menyimpan uangnya di Tanah Air. Dengan begitu, devisa negara menjadi kian kuat. Itu hanya hayalan belaka.
Bahkan dengan enaknya LBP cuap cuap membayangkan kalau kita bisa dapat (dari family office) awal-awal sebesar US$100 juta, US$200 juta sampai US$1 miliar, kan bagus. Gak ada ruginya. Itu uang siapa – terbayang pemilik modal besar akan menguntungkan dirinya.
LBP coba merujuk dengan membandingkan negara lain yang stabilitas politik dan ekonominya sudah stabil : Singapura, Hong Kong, London (Inggris), Monako, Dubai (Uni Emirat Arab), Abu Dhabi, di jadikan rujukan atas mimpi tipuannya.
Hampir sama dengan cuap gagasannya “musuh dalam selimut” membangun bandara di Morowali tanpa kehadiran negara adalah untuk mendatangkan investasi, ternyata mendatangkan perampok Sumber Daya Alam dan penebangan hutan secara liar.
Berkhayal dengan angka tipuannya bahwa keluarga sangat kaya di luar Indonesia, umumnya memiliki setidaknya US$50 juta-US$100 juta atau setara Rp800 juta-Rp1 triliun aset yang dapat diinvestasikan dengan tujuan untuk mengembangkan dan mengalihkan kekayaan secara efektif dari satu generasi ke generasi berikutnya, sementara pribumi akan dijadikan budak.
Bukan berjuang menyelamatkan ekonomi kaum pribumi malah merancang akan menyelamatkan agar generasi oligarki lebih kuat dan kokoh menguasai ekonomi di Indonesia. Modal keuangan perusahaan sebuah family office merupakan kekayaan keluarga oligarki sendiri.
Racun ( toxic ) LBP seolah olah bisa membidik potensi pengelolaan dana US$500 miliar atau sekitar Rp 8.178,8 triliun (asumsi kurs Rp16.357 per dolar AS) dari pembentukan family office.
Ini bukan pikiran investasi tetapi tipuan akan menggunakan uang APBN untuk memberikan insentif kepada para orang kaya persis analisis Menkeu Purbaya bahwa negara mensubsidi oligarki dengan pola pembebasan pajak melalui kebijakan family office.
Sebagai Ketua Dewan Ekonomi Nasional rancang bangun ekonominya, bermental jongos, ingin menjadi pahlawan membesarkan bisnis oligarki.
Rencana membentuk entitas family office itu hanya tipuan sama sekali bukan untuk tujuan mengangkat dan memberdayalah ekonomi rakyat yang terjadi justru ekaploitasi kekayaan oleh segelintir orang keturunan Tonghoa.
Selain LBP terlalu banyak pembantu Presiden ternak dan jongos oligarki “semua musuh dalam selimut” hanya akan menipu dan melemahkan Presiden, andingnya tetap sama ingin memakzulkan lebih cepat karena oligarki merasa kekuasaannya bisa terganggu oleh kebijakan Presiden Prabowo Subianto.
(FHD/NRS)




