KNews.id – Jakarta, Data Foreign Agricultural Service United States Department of Agriculture (USDA) per 2024-2025 menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia.
Dalam setahun, produksi minyak sawit di Indonesia mencapai 46 juta metrik ton, naik dua kali lipat lebih banyak dari volume produksi di Malaysia. Pusat perkebunan kelapa sawit di Indonesia berada di Pulau Sumatera.
Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, luas perkebunan kelapa sawit di Sumatera mencapai lebih dari 8.178 juta hektar. Dikutip dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), seluruh bagian kelapa sawit dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi, seperti minyak inti sawit mentah, minyak goreng, margarin, bahan bakar minyak (BBM), biodiesel, kosmetik, dan sebagainya.
Namun, penanaman pohon kelapa sawit tak selamanya menguntungkan. Meski sama-sama pohon, kelapa sawit disebut tidak bisa menggantikan fungsi hutan sebenarnya. Lantas, seperti apa penghitungan untung dan rugi menanam pohon kelapa sawit?
Menghitung untung dan rugi menanam pohon kelapa sawitÂ
Direktur Eksekutif Center of Economic Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira menghitung keuntungan dan kerugian penanaman kelapa sawit di Indonesia dari segi ekonomi. Dia menjelaskan, bagi rakyat Sumatera, terutama Aceh, penanaman pohon kelapa sawit lebih banyak mudaratnya.
“Sumbangan Dana bagi Hasil (DBH) Perkebunan Sawit di Aceh hanya Rp 12 miliar di 2025, sedangkan mineral dan batu bara Rp 56,3 miliar,” kata Bhima.
“(Angka ini) jauh lebih kecil dibanding kerugian akibat banjir di Aceh yang mencapai Rp 2,04 triliun,” imbuhnya. Kerugian ini juga lebih besar dibandingkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tambang Aceh hanya hanya Rp 929 miliar per 31 Agustus 2025.
Bhima telah menghitung, berdasarkan kerugian rumah, infrastruktur, pendapatan keluarga, kerugian lahan sawah, dan perbaikan jalan, banjir bandang menyebabkan Aceh mengalami kerugian senilai Rp 2,2 triliun.
Bahkan, jika dihitung secara ekonomi nasional, kerugian negara juga jauh lebih banyak, yakni Rp 68,6 triliun dibandingkan sumbangan Penjualan Hasil Tambang (PHT) Rp 16,6 triliun per Oktober 2025.
Hal ini menunjukkan bahwa penanaman kelapa sawit lebih banyak merugikan lantaran bisa mendatangkan bencana ekologis. Tak dipungkiri bahwa bencana ekologis di Aceh dan Sumatera dipicu oleh aktivitas alih fungsi lahan karena deforestasi sawit dan pertambangan. Sementara itu, sumbangan dari tambang dan sawit bagi Provinsi Aceh tidak sebanding dengan kerugian akibat bencana yang ditimbulkan.
Ini Penjelasan Ahli UGM Dampak kerusakan penanaman pohon sawit lebih besar Dari segi lingkungan, penanaman kelapa sawit juga tak selamanya menguntungkan meski sama-sama pohon.
Peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi Daerah Aliran Sungai (DAS), Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Hatma Suryatmojo mengatakan, penanaman kelapa sawit justru bisa menghasilkan dampak buruk bagi kehidupan makhluk hidup di sekitarnya.
“Kalau sisi dampak yang dihasilkan dengan kerusakan lahan, kepunahan, hayati, penurunan fungsi ekologis, dan hidrologis dibandingkan ekosistem hutan alam tropis mungkin nilai ekonominya justru negatif”.
Hatma menjelaskan, meski perkebunan kelapa sawit mampu menyerap karbon dengan pertumbuhan biomassanya, kelapa sawit tidak bisa menggantikan peran hutan alam tropis sebagai bank karbon. Hal ini karena struktur vegetasi hutan tropis jauh lebih kompleks, baik secara vertikal maupun horisontal.
Vegetasi ini memiliki struktur tajuk dan tutupan hutan yang rapat dan beragam. Hutan alam dan hutan gambut juga mampu menyimpan lebih banyak stok karbon di biomassa dan tanahnya.
“Secara neraca jangka panjang, konversi hutan ke sawit hampir selalu berarti kehilangan karbon bersih, meskipun kebun sawit tampak ‘hijau’ dan produktif,” imbuhnya.
Sementara itu, perkebunan sawit bersifat homogen di mana lantai kebun ditekan agar selalu bersih sehingga memudahkan masa panen. Hal ini membuat kapasitas kebun sawit dalam hal mengendalikan air hujan lebih rendah dibandingkan hutan. Keanekaragaman hayati perkebunan sawit juga lebih rendah dibandingkan hutan yang menjadi tempat ideal bagi flora dan fauna.
Perbandingan pohon sawit vs hutan alamÂ
Hatma menjelaskan, perbandingan sangat kentara antara pohon kelapa sawit dan hutan alam adalah kemampuan kedua tanaman itu dalam mengendalikan daur air melalui proses hidrologi.
Hutan alam umumnya akan menahan air hujan dengan tajuk pohon yang berlapis dan serasah tebal di lantai hutan. Lapisan-lapisan ini meredam energi pukulan air sebelum menyentuh tahan.
Selain itu, struktur tanah hutan yang kaya bahan organik, bersifat granular, dan memiliki banyak makropori membuat air lebih mudah meresap. Dengan begitu, limpasan tetap rendah, erosi terkendali, dan sedimen yang masuk sungai relatif kecil.
Berbeda dengan perkebunan kelapa sawit yang tidak memiliki kanopi bawah dan serasah setebal hutan alam. Belum lagi, pengelolaan perkebunan menggunakan pembersih gulma, alat berat, dan pemadatan jalan panen juga membuat struktur tanah makin padat dan infiltrasi menurun.
Akibatnya, ketika hujan lebat terjadi, limpasan dan erosi yang dihasilkan semakin besar sehingga berpotensi terjadi tanah longsor dan banjir.




