spot_img
Selasa, Januari 27, 2026
spot_img
spot_img

Venezuela Bakal Menyaingi Ekspor Minyak AS, Jika Bisa Berproduksi Maksimal

KNews.id – Caracas, Isyarat dari Gedung Putih menunjukkan persiapan menuju agresi penuh AS ke wilayah Venezuela dengan dalih pemberantasan kartel narkoba. Namun, Caracas menilai rencana serangan itu sedianya terkait cadangan minyak Venezuela yang melimpah.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro meminta Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk membantu negaranya melawan “ancaman yang semakin meningkat dan ilegal” dari Amerika Serikat dan presidennya, Donald Trump. Dalam suratnya kepada sesama anggota blok negara-negara penghasil minyak utama pada Ahad, Maduro menuduh AS berusaha “merebut” cadangan minyak Venezuela, yang merupakan cadangan minyak terbesar di dunia.

- Advertisement -

“Saya berharap dapat mengandalkan upaya terbaik Anda untuk membantu menghentikan agresi ini, yang semakin kuat dan secara serius mengancam keseimbangan pasar energi internasional, baik bagi negara-negara produsen maupun konsumen,” kata Maduro, menurut salinan surat yang diterbitkan oleh lembaga penyiaran pemerintah TeleSUR.

Maduro juga “secara resmi mengecam” “penggunaan kekuatan militer yang mematikan terhadap wilayah, masyarakat, dan institusi negara”, baik kepada OPEC maupun kelompok negara OPEC+ yang lebih besar.

- Advertisement -

Meskipun Venezuela memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, diperkirakan mencapai 303 miliar barel pada tahun 2023, Venezuela hanya mengekspor minyak mentah senilai 4,05 miliar dolar AS pada tahun 2023, jauh di bawah negara-negara penghasil minyak utama lainnya, sebagian karena sanksi AS yang diberlakukan pada masa kepresidenan Trump yang pertama.

Arab Saudi dengan cadangan minyak mentah sebanyak 267,2 miliar barel, misalnya, adalah pengekspor minyak terbesar di dunia dengan nilai ekspor 181 miliar dolar AS pada 2023.

Artinya, jika bisa mengekspor minyak secara optimal, Venezuela diperkirakan bakal menyaingi AS sebagai pengekspor minyak utama regional. AS yang saat ini memiliki cadangan minyak mentah jauh di bawah Venezuela, yakni sekitar 55,2 miliar barel, saat ini merupakan pengekspor kedua terbesar di dunia dengan nilai 125 miliar dolar AS.

Bersama Iran, Irak, Kuwait, dan Arab Saudi, negara Amerika Latin ini merupakan anggota pendiri OPEC pada tahun 1960, dan para anggotanya bekerja sama untuk mengendalikan pasokan minyak dan mempengaruhi harga minyak pada dekade-dekade berikutnya.

Pada Senin, Nicolas Maduro mengatakan kepada ribuan pendukungnya di Caracas pada hari Senin bahwa ia menolak “perdamaian budak,” seraya menyatakan bahwa penempatan militer AS di Karibia telah menempatkan negaranya “dalam bahaya” selama 22 minggu terakhir.

“Kami menginginkan perdamaian, namun kami menginginkan perdamaian dengan kedaulatan, kesetaraan, dan kebebasan. Kami tidak menginginkan perdamaian para budak, atau perdamaian kolonialisme,” lanjut Maduro, ketika Presiden AS Donald Trump berencana mengadakan pertemuan dengan Dewan Keamanan Nasional untuk membahas situasi di Venezuela.

- Advertisement -

Surat Maduro muncul sehari setelah Trump menulis di platform Truth Social-nya bahwa wilayah udara Venezuela ditutup, tanpa menjelaskan lebih lanjut. “Kepada semua Maskapai Penerbangan, Pilot, Pengedar Narkoba, dan Penyelundup Manusia, harap mempertimbangkan RUANG UDARA DI ATAS DAN SEKITAR VENEZUELA UNTUK DITUTUP SECARA SELURUHNYA,” tulis Trump.

Caracas menyebut pernyataan Trump sebagai “ancaman kolonialis”. Pemerintahan Maduro selama berbulan-bulan telah menyatakan bahwa peningkatan signifikan kehadiran militer pemerintahan Trump di Karibia bertujuan untuk mendapatkan akses terhadap cadangan minyak dan gas negara tersebut.

Gedung Putih mengklaim bahwa mereka fokus pada pemberantasan perdagangan narkoba, meskipun para kritikus menunjukkan bahwa data Washington sendiri menunjukkan bahwa Venezuela bukanlah sumber utama narkoba yang masuk ke AS.

Setidaknya 83 orang tewas dalam serangan AS terhadap kapal-kapal yang diklaim Trump membawa narkoba. Para pembela hak asasi manusia mengecam serangan tersebut sebagai pembunuhan di luar proses hukum yang melanggar hukum internasional.

AS juga telah mengerahkan kehadiran militer dalam jumlah besar ke kawasan Karibia, termasuk kapal induk terbesar di dunia, USS Gerald R Ford, kapal perang lainnya, ribuan tentara, dan jet tempur F-35.

Sebagai presiden, Trump telah berjanji untuk meningkatkan produksi minyak secara signifikan, memenuhi janji dari kampanye terpilihnya kembali pada tahun 2023 untuk “mengebor, ayo mengebor”. Pada akhir November, pemerintahan Trump mengumumkan rencana baru untuk melakukan pengeboran minyak di lepas pantai California dan Florida untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade.

Sebaliknya, banyak negara kepulauan di kawasan Karibia menyerukan negara-negara yang bergantung pada bahan bakar fosil untuk beralih ke sumber energi lain, seiring mereka berjuang untuk merespons badai tropis dan bencana lainnya, yang semakin sering terjadi dan parah akibat perubahan iklim.

Persiapan perang?

Sementara, para pejabat tinggi Amerika Serikat dijadwalkan bertemu di Gedung Putih untuk membahas Venezuela, ketika pemerintahan Presiden AS Donald Trump terus membela serangan ganda yang kontroversial terhadap tersangka penyelundup narkoba di Karibia.

Pertemuan yang direncanakan pada hari Senin, seperti dilansir kantor berita Reuters, terjadi ketika militer AS terus meningkatkan asetnya ke Karibia. Hal ini memicu kekhawatiran atas kemungkinan invasi darat yang bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Venezuela Nicolas Maduro meskipun Trump telah mengirimkan pesan yang beragam dalam beberapa hari terakhir.

Pekan lalu, presiden AS mengatakan bahwa operasi darat terhadap kelompok kriminal di Venezuela dapat dimulai “segera”, yang merupakan eskalasi serangan militer AS selama berbulan-bulan terhadap tersangka penyelundup narkoba Venezuela di perairan internasional di Karibia.

Beberapa hari sebelumnya, AS menetapkan Kartel de los Soles, yang oleh para pejabat digambarkan sebagai kartel penyelundup narkoba yang dipimpin oleh Maduro, sebagai “organisasi teroris asing” (FTO). Para ahli menolak karakterisasi tersebut, dengan mengatakan bahwa “Kartel de los Soles” secara tradisional mengacu pada jaringan korupsi di dalam pemerintahan Venezuela.

(FHD/Rpk)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini