KNews.id – Jakarta – Cara menghilangkan cemas berlebihan menurut Islam dapat dipahami sebagai panduan menenangkan hati melalui pendekatan spiritual, penguatan iman, serta praktik ibadah yang membantu menumbuhkan rasa aman dan tawakal dalam kehidupan sehari-hari.
Ya, manusia merasakan berbagai perasaan seiring bertambahnya usia dan tantangan dalam hidupnya. Sekalipun perasaan tersebut membuat kita tidak nyaman, namun tetap ada manfaat yang bisa diambil dari sebuah rasa. Namun jika dirasakan terlalu lama dan dalam, maka perasaan tersebut dapat berubah menjadi hal negatif dan harus segera dihilangkan.
Salah satunya adalah rasa cemas, perasaan takut, khawatir, dan gelisah akan sesuatu yang belum pasti terjadi. Perasaan cemas yang muncul adalah sinyal peringatan akan adanya bahaya. Namun jika dibiarkan berlarut-larut, maka kecemasan hanya akan mengganggu ketenangan hati hingga dapat melemahkan iman. Itulah kenapa penting untuk tahu bagaimana cara menghilangkan cemas berlebihan menurut Islam.
Cemas, atau yang biasa dikenal sebagai anxiety ini, bisa disebabkan oleh berbagai hal. Trauma, pengalaman hidup, gaya hidup, dan faktor biologis adalah beberapa penyebab anxiety yang biasa ditemukan. Dalam Islam sendiri, ada cara menghilangkan cemas berlebihan menurut Islam bagi mereka yang merasa waswas atau gelisah. Artikel berikut ini akan memandu Anda untuk mengatasi rasa cemas yang berlebihan dengan cara-cara Islami. Cara menghilangkan cemas berlebihan menurut Islam ini tidak hanya membantu menenangkan hati, tapi juga mendekatkan diri kepada Allah SWT.
1. Menguatkan Tauhid dan Keyakinan kepada Allah
Apa yang menjadi penyebab kecemasan dalam diri? Cemas yang berlebihan biasanya muncul sebagai hasil dari hati yang tidak tenang dan pikiran yang tidak terarah. Dalam Islam, rasa cemas yang berlarut-larut berakar dari lemahnya keyakinan kepada Allah dan kurangnya rasa tawakal. Rasa cemas berlebih bukan hanya masalah mental semata, tapi juga karena kondisi hati yang sedang jauh dari Sang Penciptanya.
Ketika seseorang terlalu fokus pada kemungkinan terburuk, ia seakan-akan lupa bahwa seluruh urusan hidup di dunia ini telah diatur oleh Allah SWT.
Maka dari itu, langkah pertama dari cara menghilangkan cemas berlebihan menurut Islam adalah dengan memperkuat keyakinan kepada Allah, bahwa hanya Dialah yang menguasai segala hal.
Perasaan ragu sendiri adalah hasutan setan yang mencoba mengganggu hati manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda dalam hadits sahih bahwa setan suka membisikkan keraguan kepada manusia. Anda mungkin pernah merasakan rasa waswas saat sedang sholat, perasaan ragu ketika wudhu, atau rasa gelisah dengan ibadah-ibadah lain apakah sudah sah atau tidak. Solusinya adalah berpegang pada keyakinan (yaqīn) dan menolak keraguan yang tidak berdasar.
Memperkuat keyakinan berarti membangun rasa percaya pada ketetapan Allah (qadar). Setiap musibah, ujian, bahkan kehilangan, semuanya adalah bagian dari rencana Ilahi yang pasti mengandung kebaikan tersembunyi. Seorang mukmin yang yakin akan hal ini tidak mudah panik atau putus asa, sebab ia tahu bahwa “tidak ada yang bisa menimpanya kecuali apa yang telah Allah tetapkan.” (QS. At-Taubah: 51)
Dengan memperkuat tauhid, seseorang belajar melihat hidup dari perspektif tauhid: bukan siapa yang salah, tapi apa hikmah dari Allah. Saat kesadaran ini tertanam kuat, hati menjadi kokoh seperti gunung; tidak mudah goyah oleh berita buruk, komentar orang, atau ketakutan masa depan. Tauhid adalah fondasi utama bagi ketenangan jiwa.
2. Menjadikan Doa dan Dzikir sebagai Terapi Hati
Saat kecemasan menerpa hati, maka ketenangan dan keyakinan seseorang mulai goyah. Dalam situasi seperti ini, doa dan dzikir adalah bentuk terapi yang seharusnya dijalankan oleh umat Islam. Kekuatan dari dua amalan ini akan menjadi penyembuh hati yang terluka dan gelisah.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa yang sangat populer untuk kondisi seperti ini:
“اللهم إني أعوذ بك من الهم والحَزن، وأعوذ بك من العجز والكسل، وأعوذ بك من الجبن والبخل، وأعوذ بك من غلبة الدَّين وقهر الرجال.”
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kecemasan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil, serta dari lilitan hutang dan tekanan manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jika direnungi dan dibaca dengan penuh kekhusyukan, doa ini memiliki kandungan yang begitu dalam sehingga cocok dijadikan sebagai terapi psikologis bagi jiwa-jiwa yang sedang kebingungan. Di dalamnya, seseorang diajarkan menamai sumber kecemasan dan menyerahkannya langsung kepada Allah. Secara spiritual, ini adalah bentuk self-awareness dan release: mengenali emosi negatif lalu melepasnya dalam bentuk doa. Dalam psikologi modern, langkah ini mirip dengan teknik “cognitive reframing”, yaitu mengubah persepsi dari beban menjadi ibadah.
Lalu dzikir juga memainkan peran penting dalam meredakan gelisah. Allah berfirman,
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Sebagian dari kita mungkin hanya mengenal dzikir setelah sholat saja. Padahal, dzikir bisa menjadi obat untuk menenangkan hati yang risau. Ketika lisan mengucap subhanallah, alhamdulillah, dan la ilaha illallah, maka kalimat-kalimat tersebut sudah bisa menjadi dzikir penenang hati jika diamalkan secara rutin.
Dengan menjadikan doa dan dzikir sebagai kebiasaan harian, seseorang tidak hanya mencari solusi sesaat, tapi juga melatih jiwanya untuk selalu bersandar pada Allah. Ini adalah cara menghilangkan cemas berlebihan menurut Islam yang hanya bermodalkan kesungguhan, kesabaran, dan keyakinan bahwa setiap kalimat dzikir adalah energi penenang dari Tuhan.
3. Menjauhi Dosa dan Memperbanyak Taubat
Dosa dan kemaksiatan dapat menimbulkan keresahan batin. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah pernah berkata, “Tidak ada yang lebih menyiksa hati selain dosa.” Dosa ibarat racun halus yang merusak kedamaian jiwa tanpa disadari. Orang yang terus bermaksiat akan kehilangan rasa bahagia, meski dunia di sekelilingnya tampak sempurna.
Kegelisahan akibat dosa muncul karena fitrah manusia diciptakan untuk mencintai kebenaran dan kebersihan. Ketika seseorang melanggar perintah Allah, fitrah itu bergejolak dan menimbulkan rasa bersalah, cemas, serta tidak nyaman. Bahkan, banyak ahli kejiwaan Muslim klasik berpendapat bahwa penyakit hati spiritual (amradhul qulub) adalah sumber utama kecemasan batin.
Islam memberikan solusi yang sangat elegan: taubat dan istighfar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi)
Dengan taubat, seseorang mengakui kelemahannya di hadapan Allah, lalu membersihkan dirinya dengan harapan ampunan. Dalam proses ini, hati menjadi ringan, sebab penyesalan yang tulus adalah bentuk penyembuhan spiritual yang mendalam.
Menjauhi dosa bukan sekadar menghindari larangan, tetapi juga sebagai upaya untuk menjaga hati tetap bersih dari hal-hal negatif yang mengganggu.
4. Mengabaikan Keraguan dan Pikiran Negatif
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Jika salah seorang dari kalian ragu dalam shalatnya, hendaklah ia berpegang pada apa yang diyakini, lalu sempurnakan shalatnya.” (HR. Muslim)
Ini adalah bentuk latihan mental yang sangat sehat. Islam mengajarkan untuk tidak membiarkan pikiran obsesif menguasai hati.
Dalam konteks modern, ini bisa dipahami sebagai bentuk cognitive control dalam Islam: seseorang diajarkan untuk tidak tunduk pada overthinking. Ketika keraguan muncul, ia memilih sikap yakin dan melanjutkan amal. Dengan begitu, otak belajar bahwa tidak semua pikiran harus dipercaya. Setiap kali kita menolak bisikan waswas, kita sebenarnya sedang memperkuat kestabilan mental dan spiritual kita.
Mengabaikan waswas bukan berarti menyepelekan ibadah, tetapi menolak gangguan mental yang tidak berdasar. Hanya dengan berpikir positif, yakin pada rahmat Allah, dan fokus pada amal nyata, seseorang bisa keluar dari jerat kecemasan yang diciptakan pikirannya sendiri.
5. Menjaga Hubungan Spiritual dengan Allah
“Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak pula mereka bersedih.” (QS. Yunus: 62)
Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang dekat dengan Allah (melalui ibadah, doa, dan amal saleh) akan terlindung dari rasa cemas yang melumpuhkan. Hubungan spiritual ini hanya bisa diraih dengan sholat yang khusyu, membaca Al-Quran, memperbanyak dzikir, dan berada di lingkungan orang-orang saleh. Saat hati terhubung dengan Allah, segala bentuk kesedihan dunia menjadi ringan. Kecemasan tidak lagi tampak sebagai ancaman, melainkan ujian yang menambah kedewasaan iman.
Menjaga hubungan spiritual berarti menjadikan ibadah sebagai gaya hidup, bukan sekadar ritual. Orang yang menjadikan Allah sebagai tempat mencurahkan hati tidak akan kehilangan arah, karena ia tahu kepada siapa ia bergantung. Inilah tingkat tertinggi dalam mengatasi cemas: ketika hati telah menyerah kepada kehendak Allah, ia mencoba menemukan ketenangan dalam takdir-Nya.



