spot_img
Selasa, Januari 27, 2026
spot_img
spot_img

Beban Ganda Whoosh, Dirut WIKA Akui Eksposur Utang Rp 6,1 Triliun

KNews.id – Jakarta, Di tengah pemaparan kinerja Kuartal III-2025 dan rencana transformasi korporasi, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) menempatkan isu Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) sebagai tantangan finansial terberatnya.

Direktur Utama WIKA, Agung Budi Waskito, menjelaskan secara rinci dampak proyek strategis nasional (PSN) tersebut terhadap likuiditas dan neraca keuangan WIKA.

- Advertisement -

Keterlibatan WIKA dalam proyek Kereta Cepat Whoosh terbagi menjadi dua peran utama yang kini sama-sama menciptakan tekanan keuangan. Pertama, beban sebagai investor. WIKA adalah salah satu pemegang saham dalam konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), yang menguasai 60 persen saham Kereta Cepat Whoosh.

WIKA memiliki penyertaan modal sebesar Rp 6,1 triliun atau kurang lebih 32 persen dari total saham PSBI. Sejak Whoosh beroperasi, proyek ini mengalami kerugian karena tingkat pelanggan dan penjualan tiket belum sesuai dengan feasibility study (FS) awal.

- Advertisement -

Sebagai investor, WIKA secara otomatis akan membukukan kerugian di setiap akhir tahun atau setiap triwulan, sesuai porsi kepemilikan saham mereka dalam PSBI. “Dampaknya yang paling utama adalah sejak Kereta Cepat ini beroperasi.

Kami akan membukukan kerugian karena jumlah besar, itu yang pertama,” ujar Agung, Rabu (12/11/2025). Kedua, beban sebagai kontraktor. Selain berinvestasi, WIKA adalah satu-satunya kontraktor lokal Indonesia yang tergabung dalam Konsorsium High-Speed Railway Contractor Consortium (HSRCC), bersama enam kontraktor dari China.

WIKA mengerjakan kurang lebih 25 persen porsi konstruksi, yang seluruhnya merupakan pekerjaan konstruksi bawah: fondasi, pekerjaan timbunan, dan galian tanah. Saat ini, WIKA sedang mengalami dispute (sengketa) yang cukup besar dengan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).

“Jika sengketa konstruksi ini tidak disetujui atau dimenangkan oleh WIKA, perusahaan terancam menelan kerugian yang cukup besar dari sisi pelaksanaan proyek fisik,” ungkap Agung.

Menanti Sikap Pemerintah 

Agung mengungkapkan, WIKA saat ini berada dalam posisi menunggu keputusan dari holding BUMN, Danantara terkait nasib proyek Whoosh.

Salah satu opsi yang dibahas adalah restrukturisasi di tubuh KCIC yang paling diinginkan WIKA adalah Pemerintah mengambil alihan seluruh investasi dari empat pemegang saham BUMN yakni PT KAI (Persero), WIKA, PT Perkebunan Nusantara (PTPN), dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk.

- Advertisement -

“Tentunya kalau ini diambil oleh pemerintah akan berdampak positif buat WIKA. Karena akan mengurangi eksposur WIKA di dalam kereta cepat sebagai investor kira-kira 6,1 belum lagi terkait dengan dispute konstruksi,” tuntas Agung.

(FHD/Kmp)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini