Oleh : Muslim Arbi
KNews.id – Jakarta, Sebuah investigasi terbaru mengungkap pola terstruktur yang diduga dilakukan oleh kelompok politik yang populer dengan sebutan “Geng Solo”. Melalui serangkaian langkah sistematis, kelompok ini diduga berhasil meraih “kemenangan inkonstitusional” dengan mengorbankan stabilitas nasional.
Pola tersebut terlihat jelas dalam tiga tahap:
1. Begal Konstitusi
Perubahan aturan dan interpretasi konstitusi dipaksa agar membuka jalan bagi pencalonan Gibran, meski secara etika politik dan semangat demokrasi dinilai cacat hukum.
2. Menteri Titipan
Setelah pencalonan berhasil, pengaruh kelompok ini tetap dijaga lewat keberadaan sejumlah menteri yang dinilai lebih loyal pada patron politik lama daripada pada Presiden terpilih Prabowo.
3. Kerusuhan 2025
Gelombang kericuhan dan kekacauan sosial diduga sengaja dibiarkan, bahkan dipicu, untuk melemahkan posisi Presiden Prabowo Subianto. Kondisi ini dimanfaatkan untuk menciptakan delegitimasi kepemimpinan nasional.
Puncaknya adalah skenario pergantian kekuasaan: Prabowo berpotensi dijatuhkan dan digantikan Gibran, membuka jalan bagi era baru politik dinasti di bawah keluarga Jokowi.
Implikasi dari skenario ini amat serius. Indonesia terancam masuk ke dalam babak polarisasi politik yang semakin tajam, risiko anarki sosial seperti penjarahan properti pribadi, serta ancaman langsung terhadap prinsip Demokrasi Pancasila.
Jika skenario ini benar-benar terealisasi, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar kekuasaan politik, tetapi masa depan persatuan bangsa dan legitimasi sistem demokrasi itu sendiri.
“Narasi yang lahir dari situasi itu bisa melemahkan legitimasi pemerintah, membuka ruang bagi suksesi kekuasaan lebih cepat dari yang seharusnya,” pungkas Muslim.





