KNews.id – Jakarta – Partai NasDem tengah berada dalam badai besar yang mengguncang citranya di mata publik. Partai yang selama ini mengusung jargon perubahan itu harus menghadapi serangkaian polemik akibat ulah kadernya sendiri.
Mulai dari kasus arogansi Ahmad Sahroni yang menghina rakyat, hingga dugaan gratifikasi pemilu di Garut, semua itu membuat kepercayaan masyarakat terhadap NasDem berada di titik kritis.
Ahmad Sahroni Jadi Sorotan Publik
Awal mula krisis ini mencuat ketika Ahmad Sahroni, politisi flamboyan yang juga menjabat Sekretaris Fraksi NasDem di DPR, tersandung kontroversi karena ucapannya yang menyebut rakyat dengan kata-kata kasar.
Potongan video itu viral di berbagai platform media sosial dan segera menjadi bahan hujatan netizen. Fraksi NasDem pun bergerak cepat. Melalui surat keputusan resmi bernomor F.NasDem.758/DPR-RI/VII/2025, posisi Sahroni sebagai Wakil Ketua Komisi III DPR RI dicabut.
Ia dipindahkan ke Komisi I DPR RI, keputusan yang ditandatangani langsung olehnya sebagai sekretaris fraksi. Walaupun secara formal disebut sebagai rotasi internal, publik menilai langkah ini sebagai bentuk sanksi politik.
Namun, drama tidak berhenti di situ. Setelah pencopotan, netizen mendapati Ahmad Sahroni berada di Singapura. Dugaan bahwa ia “menghindar” dari sorotan publik makin memperkeruh keadaan.
Julukan “Crazy Rich Tanjung Priok” yang dulu melekat kini bergeser menjadi simbol arogansi politik yang dibenci banyak orang.
Kasus Gratifikasi di Garut Tambah Beban NasDem
Tak lama setelah kasus Sahroni, nama NasDem kembali terseret dalam dugaan gratifikasi pemilu di Garut.
Seorang kader berinisial LNO dituding memberikan uang dalam jumlah fantastis kepada Ketua Bawaslu Kabupaten Garut pada Pemilu 2024. Kasus ini menambah daftar panjang persoalan hukum yang menjerat anggota partai tersebut.
Publik menilai kasus ini bukan sekadar masalah individu, tetapi menyangkut integritas demokrasi lokal.
Jika terbukti, dampaknya bisa sangat serius bagi kepercayaan masyarakat terhadap proses pemilu yang seharusnya berlangsung jujur dan adil.
Netizen Tidak Tinggal Diam
Reaksi keras dari masyarakat, khususnya generasi muda di media sosial, menjadi bukti betapa dalamnya luka yang ditinggalkan kasus ini.
Berbagai komentar negatif, kritik pedas, hingga seruan untuk mencoret NasDem dari daftar pilihan politik mendominasi percakapan online.
Banyak yang menilai bahwa partai politik tidak bisa lagi hanya mengandalkan jargon perubahan jika para kadernya justru menunjukkan sikap arogan dan terjerat kasus dugaan korupsi. Transparansi, integritas, dan tanggung jawab moral kini jadi tuntutan utama publik.
Tantangan NasDem ke Depan
Dengan badai kritik yang terus menghantam, NasDem berada dalam ujian berat. Keputusan internal saja tidak cukup untuk mengembalikan kepercayaan publik.
Partai ini perlu menunjukkan langkah nyata, baik dalam penegakan disiplin internal maupun upaya membersihkan kader dari praktik yang mencederai demokrasi.
Jika tidak ada langkah tegas dan konsisten, citra NasDem bisa makin merosot, dan elektabilitasnya terancam turun di mata pemilih, terutama di kalangan generasi muda yang semakin kritis terhadap perilaku elite politik.





