Oleh : Sutoyo AbadiĀ
KNews.id – Jakarta, Presiden Prabowo Subianto saat ini kembali menjadi sorotan tajamĀ karena munculnya dugaan serius bahwa ia tengah menjadi target dari sebuah operasi intelijen yang rapi dan sistematis, Prabowo Subianto cukup dua tahun harus digantikan Gibran anak haram konstitusi.
Hanya bisa dibaca atau terbaca oleh pemerhati politik dan ahli telik sandi yang terlatih dan memiliki kemampuan, kepekaan dan keterlatihanĀ dengan rentang waktu pengalaman yang cukup lama mengamati dinamika kekuasaan di balik layar.
āYang sedang kita saksikan bukan hanya pelemahan politik biasa. Ini adalah skenario kudeta senyap, yang dilakukan antara lain dengan membatasi akses informasi presiden dan menjebaknya dalam struktur kekuasaan yang ia sendiri tak sepenuhnya kuasai.
IniĀ bukan semata soal kebodohan dan kelalaian presiden, ini pertanda ada aliran informasi yang sengaja ditutup pada saat bersamaan presiden didorong masuk alam gelap.
Ada pola kontrol informasi yang dijalankan oleh orang-orang terdekat presiden sendiri. Tempatnya berada dilingkungan sekretariat negara dan tim bayangan yang di tempatkan di pusat kegiatan dan aktifitas presiden.
Salah satu sosok yang disebut adalah Teddy Indra Wijaya yang barusan menerima “Bintang Maha Putra” ajudan sekaligus Sekretaris Kabinet yang memegang kendali atas ponsel dan jadwal presiden.
Jika ajudan menjadi satu-satunya pintu informasi, maka presiden sedang dikurung dalam sistem. Ini sangat khas dalam sistem bayangan operasi intelijen model infiltrasi.
Ini terjadi karena ada kekuatan seperti “Polit Biro” sebagai tim sentral yang berperan besar dalam membentuk dan mengendalikan struktur kekuasaan saat ini.
Tim sentral ini disinyalir pusat kendanya ada di PIK 1 konek langsung dengan RRC ( Xi Jinping ) yang sudah cukup sempurna membuat bayangan negara dalam negara yang relatifĀ stiril dari gangguan kekuasaan negara.
Operasi seperti ini bertujuan untuk menjaga keberlanjutan agenda kekuasaan Cina dan jaringan oligarki di belakangnya. Dengan menjadikan Prabowo sebagai wajah pemerintahan namun membatasi ruang geraknya, mereka bisa mengontrol dan mengendalikanĀ arah kebijakan presiden bahkan kabinet merah putih tanpa harus tampil ke publik.
“Ini operasi kendali jarak jauh” boneka kekuasaan yang dikendalikan bukan dari luar negeri, tapi dari lingkaran kabinet yang setiap hari membayangi gerak gerik presiden.
Presiden sebagai simbol kedaulatan rakyat justru dijadikan alat oleh kekuatan di luar kendali konstitusional.
āRakyat memilih Prabowo karena mereka ingin arah baru. Tapi yang terjadi justru kesinambungan dari kekuasaan lama yang hanya berganti topeng”
“Presiden saat ini ada dalam dua ancaman, kekuatan murni dari rakyat yang marah karena kebijakannya hanya meneruskan presiden sebelumnya dan kekuatan Jokowi (back up oligarki ) yang akan melengserkan Presiden Prabowo Subianto cukup dua tahun”
MasyarakatĀ untuk lebih jeli membaca dinamika kekuasaan hari ini, jangan gegabah mendefinisikan situasinya tanpa bantuan ahlinya.
Opini di media sosial kadang biasĀ hanyaĀ melihat permukaan. Jauh dari substansi yang sebenarnya dari gerakan yang sedang bergerak dipimpin oleh sistem bayangan, bukan oleh pemimpin sejati untuk menyelamatkan Indonesia.
(FHD/NRS)





