spot_img
Sabtu, Februari 21, 2026
spot_img
spot_img

Alasan Israel Tetap Kukuh Walau Sekutu AS Kini Membela Palestina

KNews.id – Jakarta – Satu per satu negara Barat sekutu Amerika Serikat mulai menunjukkan dukungan bagi kemerdekaan Palestina. Dari Prancis, Inggris, Kanada, hingga Australia, gelombang pengakuan negara Palestina dan desakan gencatan senjata terus menguat, seiring kecaman terhadap agresi Israel di Gaza.

Namun, di tengah tekanan internasional itu, Israel tetap keras kepala melanjutkan operasi militer dan bahkan disebut berencana menguasai Gaza secara penuh.

- Advertisement -

Sikap “kepala batu” Israel ini, menurut para pengamat, bukan tanpa alasan, dan erat kaitannya dengan faktor politik, ekonomi, hingga kekuatan lobi internasional.

Dukungan buta Amerika Serikat
Pengamat Timur Tengah dari Universitas Padjadjaran, Drs Teuku Rezasyah, menilai Israel merasa aman melancarkan operasi pembersihan di Gaza karena mendapat kepastian dukungan Amerika Serikat, baik dalam jangka pendek maupun panjang.

- Advertisement -

Dukungan ini, kata dia, bahkan mencakup perlindungan diplomatik lewat veto AS di Dewan Keamanan PBB.

Jawaban setara disampaikan Pengamat Hubungan Internasional Universitas Indonesia, Yon Machmudi. Menurutnya, Amerika menjadi satu-satunya sekutu utama yang konsisten mendukung Israel “apapun yang dilakukan”, meski sekutu-sekutu Barat lainnya mulai mengambil jarak.

“”Kondisi saat ini kan menunjukkan bahwa satu persatu negara-negara yang dulu mendukung Israel mulai meninggalkannya. Dan tersisa Amerika yang sebagai sekutu utama dan sekutu setia dari Israel yang tetap mendukung Israel apapun yang dilakukan oleh Israel. Ini seperti dukungan buta terhadap Israel,” kata Yon.

Direktur Sekolah Kajian Strategis dan Global Universitas Indonesia, Muhammad Sya’roni Roffi, menambahkan bahwa kuatnya pengaruh pelaku usaha Israel di AS telah lama menjadi rahasia umum, memengaruhi kebijakan luar negeri Negeri Paman Sam.

Menurutnya, lobi pengusaha Israel di AS sangat berpengaruh dalam membentuk kebijakan luar negeri Washington. Hal ini membuat dukungan terhadap Israel menjadi bagian dari politik bipartisan di AS, terlepas dari kritik global.

Selain faktor AS, Rezasyah menyebut Israel memanfaatkan ketidakteguhan negara-negara Eropa.
“Negara-negara Eropa tidak padu dalam kebijakan mereka, dan di dalam negeri masing-masing terdapat lobi Kristen-Zionis yang amat kuat,” Rezasyah menjelaskan pandangannya.

- Advertisement -

Ia juga menyoroti besarnya kekuatan lobi Yahudi secara global, baik di bidang ekonomi, keuangan, jaringan informasi, maupun tekanan politik, yang mampu menetralkan kebijakan Uni Eropa di masa depan.

Solidaritas dunia Islam yang lemah
Rezasyah menilai lemahnya sikap tegas Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan Liga Arab turut memperkuat posisi Israel. “Mereka lebih takut atas Iran daripada Israel,” katanya.

Menurutnya, Israel dan AS telah menjalin banyak perjanjian bilateral dengan masing-masing negara anggota OKI dan Liga Arab, sehingga mengurangi kemungkinan blok ini bersatu menghadapi Israel.

Kejatuhan citra Israel di mata sekutu lama
Meski demikian, Yon Machmudi menekankan bahwa tragedi kemanusiaan di Gaza telah membuat sejumlah sekutu lama Israel mengubah sikap.

Negara-negara seperti Prancis, Inggris, dan Australia disebut mulai mendukung Palestina setelah menyaksikan tindakan yang “diluar batas kemanusiaan”, termasuk strategi kelaparan massal terhadap warga Palestina.

Namun, di balik perubahan sikap sebagian sekutu Barat itu, kekuatan politik dan ekonomi yang meneruskan Israel membuat negeri itu tetap kekeh terhadap pendiriannya, bahkan saat dunia menuduhnya melanggar hukum internasional dan menolak solusi dua negara.

(NS/CNN)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini