spot_img

Konflik Thailand-Kamboja, Kini di Thailand Telah Menjadi “Kota Hantu” di Tinggalkan Penduduknya

KNews.id – Bangkok, Kota Kantharalak di Thailand telah menjadi “kota hantu” karena penduduknya melarikan diri dari perang sengit di perbatasan Thailand-Kamboja. Konflik ini telah meningkat menjadi pertempuran terburuk antara kedua negara dalam 13 tahun, yang menyebabkan puluhan orang tewas dan lebih dari 130.000 orang mengungsi.

Ketegangan semakin memburuk dengan dibukanya front baru di Provinsi Trat, lebih dari 100 kilometer dari wilayah sengketa lainnya. Jalanan yang biasanya ramai di Distrik Kantharalak di Provinsi Sisaket, Thailand, kini sunyi senyap, berubah menjadi “kota hantu” saat pertempuran sengit di perbatasan Thailand-Kamboja memasuki hari ketiga pada hari Sabtu.

- Advertisement -

Kantor berita Reuters melaporkan bahwa suasana di Kantharalak hampir sepenuhnya sepi.  Jianuwat Thaalalai (31) berdiri di depan hotel tempatnya bekerja, menggambarkan kenyataan pahit: “Hampir semua orang telah pergi. Praktis seperti kota hantu.” “Hotel saya masih buka bagi mereka yang berada di dekat perbatasan yang membutuhkan akomodasi,” ujarnya. 

Bentrokan semakin intensif karena kedua negara mati-matian mencari dukungan diplomatik, masing-masing menegaskan tindakan mereka sebagai pembelaan diri dan mendesak pihak lain untuk menghentikan permusuhan dan memulai negosiasi.

- Advertisement -

Ketegangan semakin meningkat ketika Angkatan Laut Kerajaan Thailand melaporkan bentrokan baru di Provinsi Trat, garis depan baru yang muncul lebih dari 100 kilometer dari wilayah sengketa lainnya di sepanjang perbatasan.

Kedua negara telah terkunci dalam ketegangan sejak seorang tentara Kamboja tewas pada akhir Mei 2025 dalam pertempuran singkat. Pasukan perbatasan di kedua belah pihak sejak itu telah diperkuat secara besar-besaran di tengah krisis diplomatik yang semakin dalam yang telah secara signifikan mengguncang pemerintahan Thailand yang rentan.

Korban tewas dalam perang Thailand vs Kamboja telah mencapai 32 orang hingga Sabtu. Anehnya, militer Thailand lebih kuat tapi menderita korban jiwa lebih banyak dibanding Kamboja yang militernya lebih lemah.

Para pejabat Kamboja melaporkan 12 orang tewas akibat perang sengketa perbatasan yang sedang berlangsung dengan Thailand. Juru bicara Kementerian Pertahanan Nasional Kamboja, Maly Socheata, mengatakan kepada wartawan pada hari Sabtu bahwa tujuh warga sipil dan lima tentara lainnya dipastikan tewas.

Seorang pria Kamboja lainnya sebelumnya dilaporkan tewas ketika roket Thailand menghantam pagoda Buddha tempat dia bersembunyi pada hari Kamis, namun belum dikonfirmasi militer setempat. Setidaknya 50 warga sipil Kamboja dan lebih dari 20 tentara juga terluka, kata Socheata.

Sedangkan Thailand telah melaporkan 13 warga sipil—termasuk anak-anak—serta enam tentara tewas selama dua hari terakhir pertempuran. Sebanyak 29 tentara Thailand dan 30 warga sipil juga terluka dalam serangan Kamboja.

- Advertisement -

Surat kabar Kamboja, The Khmer Times, mengutip para pejabat di provinsi Preah Vihear, Kamboja, mengatakan sekitar 20.000 penduduk sejauh ini telah dievakuasi dari perbatasan utara negara itu dengan Thailand.

Lebih dari 138.000 orang juga telah dievakuasi dari wilayah perbatasan Thailand, dengan sekitar 300 pusat evakuasi telah dibuka, menurut pejabat Thailand. Pada hari Jumat, Thailand mengumumkan darurat militer di delapan distrik di sepanjang perbatasan dengan Kamboja.

Konflik yang telah berlangsung puluhan tahun—yang berpusat di sekitar wilayah perbatasan Thailand-Kamboja yang diperebutkan—kembali pecah pada hari Kamis setelah ledakan ranjau darat di sepanjang perbatasan melukai lima tentara Thailand.

Ketegangan memuncak pada hari Kamis ketika Thailand dan Kamboja melancarkan serangan langsung ke wilayah masing-masing, dengan kedua belah pihak saling menuduh pihak lain melepaskan tembakan terlebih dahulu.

Thailand mengatakan militer Kamboja meluncurkan roket jarak jauh ke sasaran sipil di negara itu, termasuk serangan di sebuah pom bensin yang menewaskan sedikitnya enam orang. Militer Thailand kemudian mengerahkan jet tempur F-16 untuk mengebom sasaran-sasaran di Kamboja, termasuk serangan yang dilaporkan terhadap pagoda Buddha, yang mengakibatkan satu korban sipil.

Kamboja menuduh Thailand menggunakan sejumlah besar bom tandan—senjata kontroversial dan dikutuk secara luas—dan menyebutnya sebagai pelanggaran hukum internasional yang jelas. Phumtham Wechayachai, pelaksana tugas perdana menteri Thailand, mengatakan pada hari Jumat bahwa Kamboja mungkin bersalah atas kejahatan perang karena kematian warga sipil, serta kerusakan yang terjadi pada sebuah rumah sakit.

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) mengadakan pertemuan darurat yang berfokus pada bentrokan secara tertutup pada Jumat malam di New York, tetapi tidak mengeluarkan pernyataan publik resmi setelah pertemuan tersebut.

Kantor berita Associated Press, mengutip seorang diplomat dewan yang tidak disebutkan namanya, melaporkan bahwa ke-15 anggota DK PBB meminta para pihak untuk meredakan pertempuran, menahan diri, dan menyelesaikan perselisihan secara damai.

(FHD/Snd)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini