KNews.id – Jakarta, Ketika bara konflik di Timur Tengah kembali menyala—kali ini antara dua kekuatan besar, Israel dan Iran—dunia seakan ditarik kembali pada dilema lama: kekuatan militer atau kekuatan diplomasi. Di tengah gempita suara media internasional, muncul satu suara yang jernih dari Tanah Air: Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Dalam wawancara khusus yang dikutip oleh CNN Indonesia pada 16 Juni 2025, SBY menyampaikan keprihatinannya atas memanasnya hubungan kedua negara. Ia bahkan menyebut secara blak-blakan bahwa konflik ini dipicu oleh tindakan saling serang dan kebuntuan diplomasi. Meski kutipan pernyataannya tidak panjang, arah dan nada bicara SBY jelas: dunia tidak boleh membiarkan logika kekuatan menggantikan etika kemanusiaan dan hukum internasional.
1. Membedah Konflik Tanpa Kacamata Bias
Dalam kacamata SBY, konflik tidak boleh dilihat secara hitam-putih. Iran bukan semata-mata agresor, dan Israel bukan semata korban. Keduanya memiliki sejarah panjang—politik, agama, keamanan nasional—yang membentuk respons dan retorika mereka hari ini. Namun, seperti yang sering SBY tekankan, sejarah tidak boleh dijadikan justifikasi untuk kekerasan yang berulang.
SBY juga mengajak masyarakat Indonesia—dan dunia—untuk tidak mudah percaya pada framing tunggal media internasional. Literasi media menjadi penting. Apakah media global menampilkan semua sisi cerita? Apakah suara warga sipil Iran dan Israel terdengar, atau hanya para jenderal dan presiden?
2. Diplomasi Adalah Jalan, Bukan Retorika
Sebagai mantan jenderal yang kemudian menjadi presiden dua periode, SBY memahami medan konflik, tapi juga memahami kekuatan diplomasi. Pandangannya menolak pendekatan unilateral. Solusi jangka panjang hanya bisa lahir dari dialog multilateral yang adil, bukan dari embargo, sanksi sepihak, atau serangan balik tanpa ujung.
SBY bahkan beberapa kali dalam masa jabatannya mendorong Indonesia untuk aktif dalam forum PBB dan OKI (Organisasi Kerja Sama Islam) untuk menjadi penengah dalam konflik-konflik dunia Islam dan Barat. Dan hari ini, suaranya tetap konsisten: jangan diam ketika kemanusiaan dilukai, tapi jangan membalas luka dengan peluru.
3. Ketika Kemanusiaan Dikorbankan
Dalam opini yang lebih mendalam, SBY mengingatkan bahwa yang paling menderita dari konflik semacam ini bukanlah elit politik atau militer, melainkan rakyat biasa. Anak-anak, perempuan, dan warga sipil tak bersenjata menjadi korban perang yang tidak mereka pilih. Ini adalah sisi kemanusiaan yang kerap tak mendapat tempat dalam headline berita.
Pernyataan SBY menjadi pengingat bahwa konflik modern tak lagi hanya berlangsung di medan perang fisik, tapi juga di ruang media. Narasi, disinformasi, dan polarisasi menjadi bagian dari strategi perang, dan kita semua, sebagai pembaca, harus punya nalar kritis untuk memilahnya.
4. Indonesia, Suara Moral di Panggung Dunia
SBY tidak sekadar mengomentari konflik sebagai pengamat. Ia mengingatkan Indonesia, negeri dengan populasi Muslim terbesar dan tradisi diplomasi nonblok, untuk tak tinggal diam. Dalam kutipan CNN tersebut, terbaca pesan tersirat: Indonesia harus kembali memainkan peran aktif sebagai juru damai, bukan hanya dalam pernyataan politik, tetapi dalam tindakan nyata di forum internasional.
Dengan pengalaman menjadi Presiden dan tokoh militer, SBY mewakili suara yang tidak hanya moral, tetapi juga strategis: suara yang tahu bagaimana perang bekerja, dan tahu bagaimana perdamaian bisa dibangun.
Penutup: Membaca dengan Nurani, Bertindak dengan Nalar
Ketika berita global didominasi oleh ledakan roket dan pidato bernada ancaman, kita butuh suara penyeimbang. Pandangan SBY mengajak publik untuk melihat lebih jernih, membaca lebih dalam, dan menolak menjadi bagian dari kebisingan propaganda global.
Di tengah perang, suara yang mengajak pada kemanusiaan dan hukum internasional adalah suara yang paling waras. Dan itulah yang—dalam diam dan dalam kutipan—disampaikan oleh Susilo Bambang Yudhoyono.
(FHD/NRS)




