Oleh : Damai Hari Lubis – Pengamat Hukum & Politik Mujahid 212
KNews.id – Dalam kasus pemberhentian Effendi Simbolon/ ESIM dari keanggotaan PDIP diyakini memang faktor kesengajaan yang datang dari ESIM sendiri.
Pola ESIM yakni sengaja bertemu Jokowi untuk memberi dukungan kepada cagub yang didukung Jokowi, yamg bukan berasal dari partai (PDIP), maka artinya ESIM memang minta untuk dipecat.
Bisa jadi langkah politik ESIM memang mencari panggung politik sambil menggembosi jagoan partainya (PDIP) sementara berharap bakal dapat simpati dari Jokowi yang masih punya pengaruh kuat kepada Prabowo selaku presiden RI.
Namun, andai teori ini benar, maka ESIM tidak mudah jika tujuannya ingin mendapat sesuatu dari Presiden Prabowo, karena di sekeliling sang Presiden RI sudah banyak anggota partai lain yang lebih dulu bergabung, belum lagi para tokoh partai Gerindra selaku tuan rumah.
Pastinya, penghuni lama akan merasa risih ada tamu yang telat membantu Prabowo menjadi Presiden RI dan keikutsertaannya bergabung ditengarai semata bukan tulus semata kepada Prabowo tapi faktor ingin “dekat-dekat dengan Jokowi yang ‘telah merampok’ banyak jatah kursi menteri?”
Walau Maruarar, Budiman Sudjatmiko dan ESIM memang sama-sama pengkhianat partai menurut tuan rumah Gerindra dan asal partai, namun ESIM telat datang, beda dengan kasus Maruarar dan Budiman, yang lebih dulu “hengkang” sebelum ⁰pilpres 2024 dan ikut dibarisan tim pemenangan Prabowo menuju kursi RI.1
Namun jangan juga dianggap oleh Maruarar Cs. bakal aman karirnya? Bisa dibayangkan jika “sang stakeholder” PDIP Megawati Soekarno Putri kelak “mesra” dengan Prabowo, karena untuk seorang tokoh besar yang riil kekuatannya dari sisi kuantitas kader partai dan kekuatan politiknya di Senayan, tentunya bukan sebuah manufer yang sulit bagi seorang Mega, untuk berdampingan dengan Prabowo, andai serius ingin menjalin ikatan bisa diibaratkan semudah membalik telapak tangan.
Dan proses membalik telapak tangan ini diyakini sudah mulai dirancang, dibangun dan dijajaki melalui diskursus politik dengan pola underground serta prinsip kehati-hatian, mengingat sakit hati seorang Mega dan para senioren partai yang sulit menghapus “bau anyir petugas partai”, sosok kacang lupa kulit dari bapak anak dan menantu
Maka dengan gejala dan perkembangan yang ada, tentunya Jokowi dan keluarga memahami posisinya yang serba rawan, belum lagi tuk mengantisipasi resiko dari barisan oposan “politik identitas” yang vokal selama satu dekade, yang Ia dizolimi namun berstrategi ikut merapat ke Prabowo, sambil terus kumandangkan suara (chorus and speak up) tangkap, seret dan adili Jokowi dan Fufu Fafa!
Andai saja hal kemesraan antara Megawati-Prabowo terjadi, bisa dibayangkan nasib karir politik para pengkhianat PDIP yang bakal kena seruduk dan terpental jauh dari lingkaran kabinet Merah Putih.
(FHD/NRS)





