spot_img

Gubernur BI: Semoga Dollar AS Tidak Menguat Lagi, Dengan Ketidakpastian Gobal Yang Kembali Meningkat

KNews.id – Jakarta, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebutkan, ketidakpastian global kembali meningkat. Hal ini yang memicu nilai tukar rupiah cenderung tertekan oleh dollar AS selama beberapa waktu terakhir.

Perry mengatakan, kembali meningkatnya ketidakpastian global ditandai oleh pertumbuhan ekonomi dunia yang diproyeksi melambat dan tidak merata. BI memprediksi, laju pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) bakal membaik, sementara China dan negara Eropa melambat.

- Advertisement -

Kemudian, laju penurunan inflasi global akan melambat, bahkan berpotensi kembali meningkat. Risiko ini muncul setelah Donald Trump kembali terpilih sebagai presiden AS. “Terpilihnya kembali Presiden Trump di Amerika Serikat, dengan kebijakan American First, dapat membawa perubahan pesat pada lanskap geopolitik dan perekonomian dunia,” tutur Perry dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2024, di Jakarta, Jumat (29/11/2024).

Cita-cita Swasembada dan Ketahanan Pangan Era Prabowo Artikel Kompas.id Trump diyakini kembali menerapkan kebijakan proteksionis dengan menerapkan tarif impor lebih tinggi terhadap negara mitra dagangnya. Hal ini lah yang berpotensi membuat laju inflasi kembali meningkat.

- Advertisement -

Akibatnya, laju penurunan tingkat suku bunga acuan AS, The Federal Reserve (The Fed) bakal melambat. Maklum, tingkat suku bunga yang tinggi merupakan senjata utama The Fed untuk memerangi inflasi di Negeri Paman Sam.

“Sementara (yield) US Treasury akan naik tinggi ke 4,7 persen di 2025 dan 5 persen di 2026, karena membengkaknya defisit fiskal dan utang pemerintah Amerika,” ujar Perry. Tingginya tingkat suku bunga acuan The Fed dan imbal hasil surat utang pemerintah AS menciptakan permasalahan lain, yakni tren penguatan dollar AS yang bakal berlanjut.

“Mengakibatkan depresiasi nilai tukar seluruh dunia, termasuk rupiah,” kata Perry. Baca juga: Konflik Rusia-Ukraina Memanas, Nilai Tukar Rupiah Berpotensi Tembus Rp 16.000 Per Dollar AS? “Semoga dollar AS tidak menguat lagi,” sambungnya.

Selain itu, bank sentral mencermati adanya preferensi investor global untuk kembali berinvestasi di AS. Sentimen-sentimen ini lah yang membuat modal asing beralih dari pasar negara berkembang ke Amerika. “Kelima gejolak global tersebut berdampak negatif ke berbagai negara Indonesia tidak terkecuali. Perlu kita antisipasi,” ucap Perry.

Sebagai informasi, berdasarkan data BI Jisdor, kurs rupiah pada 29 November 2024 berada di level Rp 15.856 per dollar AS. Angka ini terkoreksi sekitar 0,85 persen dari posisi 1 November 2024 di level Rp 15.723 per dollar AS.

(FHD/Kmp)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini