KNews.id – Jakarta – Tertangkapnya pimpinan Hamas Yahya Sinwar ternyata sebuah ketidaksengajaan. Awalnya pasukan Israel (IDF) tidak sadar tengah berhadapan langsung dengan pimpinan Hamas Yahya Sinwar saat baku tembak di sebuah wilayah di Rafah Rabu (16/10/2024).
Seperti dimuat BBC pada Jumat (18/10/2024), IDF mengatakan bahwa sebuah unit dari Brigade Bislamach 828 sedang berpatroli di Tal al-Sultan, sebuah wilayah di Rafah, pada hari Rabu.
Kemudian mereka terlibat baku tembak dengan para pejuang Hamas dan dilaporkan tiga orang tewas dari pihak Hamas. Di awal, para pasukan IDF itu tidak sadar bahwa tiga pejuang Hamas yang tewas merupakan para petinggi pasukan tersebut.
Hingga para pasukan IDF pun tidak kembali ke lokasi. Hingga pada Kamis pagi mereka kembali ke lokasi saat dinyatakan aman untuk mengambil sempel jasad tersebut. Namun saat mayat-mayat diperiksa, ditemukan bahwa salah satu tubuh tersebut mirip dengan pemimpin Hamas Yahya Sinwar.
Jenazah akhirnya dievakuasi dan dibawa ke Israel pada hari itu setelah area tersebut dinyatakan aman. Hasil identifikasi pun memastikan bahwa jasad tersebut memiliki kecocokan dengan DNA yang dimiliki Yahya Sinwar.
Daniel Hagari, juru bicara IDF, mengatakan bahwa pasukannya awalnya tidak tahu bahwa Yahya Sinwar ada di medan perang.
Dia mengatakan bahwa pasukannya mengidentifikasi ketiga pria tersebut berlari dari rumah ke rumah, dan terlibat kontak senjata sebelum mereka berpencar. Pria yang kemudian diidentifikasi sebagai Sinwar berlari sendirian ke salah satu bangunan.
Setelah terdeteksi oleh drone, dia tewas ketika sebuah tank menembakkan peluru ke bangunan tersebut. Sebagai informasi Israel mengklaim kembali membunuh pimpinan Hamas yakni Yahya Sinwar setelah sebelumnya berhasil membunuh Ismail Haniyeh.
Yahya Sinwar merupakan pengganti Ismail Haniyeh yang juga dibunuh oleh Israel pada Juli 2024 lalu. Yahya Sinwar kemudian ditunjuk sebagai pemimpin keseluruhan Hamas sejak Juli 2024.
Namun selang tiga bulan kemudian, Israel mengklaim telah berhasil membunuh Yahya Sinwar pada Rabu (16/10/2024). Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan bahwa pembunuhan pemimpin Hamas tersebut bukanlah akhir, tetapi “awal dari akhir” perang satu tahun di Gaza.
Seperti dimuat BBC, Militer Israel mengatakan bahwa Sinwar adalah salah satu dari tiga militan yang terbunuh pada hari Rabu di Rafah, di bagian selatan wilayah tersebut. Juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Daniel Hagari pun menjelaskan kronologi pembunuhan terhadap Yahya Sinwar.
Dia menyebut tiga pria bersenjata terlihat oleh tentara Israel berlari dari rumah ke rumah namun setelah ditembaki, mereka terpisah, dan Sinwar masuk ke sebuah bangunan sendirian.
Dari pantauan drone, sosok yang diduga Yahya Sinwar terlihat duduk di kursi. Tentara masuk ke gedung itu dan menemukan Sinwar dengan rompi, senjata. Kepala IDF Letnan Kolonel Hertzi Halevi mengatakan pihaknya kemudian berhasil menangkap Yahya Sinwar.
“Kami katakan kami akan menangkapnya, dan kami berhasil menangkapnya. Dunia sekarang lebih baik tanpa dia.” Israel pun mengklaim genetik jasad yang dipegang oleh Israel cocok dengan sample gigi dan sidik jari yang dimiliki IDF.
Sebelumnya, gambar-gambar grafis yang beredar secara online tampak menunjukkan tubuh tak bernyawa yang mirip dengan Sinwar tergeletak di reruntuhan dengan cedera kepala yang parah.
IDF pada saat itu mengatakan kemungkinan dia telah tewas tetapi tidak ingin mengonfirmasi kematiannya secara prematur terhadap orang yang telah mereka kejar selama lebih dari satu tahun.
Setelah berhasil membunuh Yahya Sinwar, Israel mengklaim menargetkan saudara laki-laki Yahya Sinwar yaitu Muhammad Sinwar.
“Israel secara aktif mencari Muhammad Sinwar, saudara laki-laki pemimpin Hamas yang terbunuh, dan semua komandan militer Hamas,” kata Hagari, dikutip dari The Times of Israel.
Muhammad Sinwar adalah salah satu komandan senior dan veteran sayap bersenjata Hamas. Ia lahir di kamp pengungsian Khan Younis pada 15 September 1975. Muhammad Sinwar dianggap lebih tegas dari saudaranya, Yahya.
Di antara keahliannya bukan hanya memahami intelijen Israel dan taktik IDF, tetapi juga menyelaraskan kepentingan berbagai organisasi, dikutip dari The Jerusalem Post.




