KNews.id – Aksi demonstran yang dilakukan ratusan mahasiswa mendapatkan perhatian pengguna jalan yang melintas di Jalan Gejayan, Yogyakarta. Massa gabungan mahasiswa dan elemen Masyarakat yang tergabung dalam Gejayan Memanggil ini mengkritisi kebijakan pemerintahan.
Massa pun meminta kepada negara untuk menyejahterakan buruh yang saat ini masih terpinggirkan. Sebab, kebutuhan dasar pendidikan dan kesehatan merupakan tanggungjawab pemerintah sebagaimana di atur oleh UUD 1945.
“Dagelan yang konyol sekali, yang itu membodohkan masyarakat rakyat Indonesia, rakyat Indonesia sudah muak dengan politik hari ini, rakyat Indonesia sudah muak dengan tindakan elite-elite politik yang korupsi yang kemudian menerapkan kolusi nepotisme,” kata Restu Baskara, Humas Aliansi Rakyat Bergerak.
Dalam kesempatan itu, Restu menyinggung masalah MK yang merupakan produk reformasi. Namun, kenyataannya sekarang telah mengkhianati amanat reformasi itu sendiri. Bahkan, massa menilai Jokowi telah mengkhianati cita-cita reformasi dengan melakukan kejahatan demokrasi.
“Kami tahu bahwa di MK itu adalah produk reformasi tapi elite politik sekarang justru mengkhianati amanat dari reformasi yang sudah diperjuangkan dari 98 sampai sekarang. Artinya ini adalah tugas kita bagaimana mengubah keadaan itu, mengkritik rezim hari ini,” terangnya.
Restu mengungkapkan, akan ada massa lebih banyak yang akan turun ke jalan apabila kesewenang-wenangan, penindasan, dan kebodohan politik terus dilakukan. “Kami sudah muak dengan semua paslon semua partai politik apalagi pro terhadap pemodal,” tandasnya.
Senada dengan Restu, Humas Aliansi Rakyat Bergerak lainnya, Dewa Adi Wibawa juga mengutarakan, pemerintahan saat ini dianggap telah melemahkan KPK.
Sejumlah spanduk besar pun dibentangkan. Salah satunya spanduk bertuliskan “Nawa Bencana Jokowi”. Pada spanduk tersebut terdapat 9 poin penting yang disampaikan para mahasiswa kepada pemerintah. Diantaranya, memerosotkan demokrasi, melanggengkan represi. Lalu ada pula kalimat merawat nepotisme, menerabas konstitusi, hingga “PSN: Proyek Sengsara Nasional.
“Bukan Nawa Cita, karena cita-cita 9 tahun lalu kini sudah jadi Nawa Bencana. Hilirisasi asal-asalan dan merusak lingkungan. Lawan…,” teriak seorang peserta aksi saat berorasi. (Zs/Dmkrzy)






