KNews.id – Jakarta – Pada dasarnya, manusia adalah makhluk yang tidak luput dari dosa dan kesalahan. Allah SWT berfirman:
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَىٰهَا ٨
“Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya.” (QS Asy-Syams: 8)
Dalam ayat tersebut, Allah SWT menyebutkan kefasikan lebih dahulu daripada ketakwaan sebagai isyarat bahwa kecenderungan berbuat salah memang merupakan bagian dari tabiat manusia.
Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadis qudsi yang beliau riwayatkan dari Allah Ta’ala:
يا عبادي، إنكم تخطئون بالليل والنهار
“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa pada malam dan siang hari.”
Beliau juga bersabda:
كل ابن آدم خطاء وخير الخطائين التوابون
“Setiap anak Adam pasti pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang banyak bertaubat.”
Kendati demikian, kasih sayang Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya begitu luas. Karena itulah Allah membuka banyak pintu agar dosa-dosa mereka dapat diampuni. Di antara jalan-jalan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Tobat yang Tulus (Taubat Nasuha)
Allah Ta’ala berfirman:
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا تُوۡبُوۡۤا اِلَى اللّٰهِ تَوۡبَةً نَّصُوۡحًا ؕ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya. “(QS At-Tahrim: 8)
Allah sangat bergembira menerima taubat hamba-Nya. Rasulullah SAW bersabda:
لَله أفرح بتوبة عبده من أحدكم سقط على بعيره وقد أضله بأرض فلاة
“Sungguh Allah lebih bergembira dengan taubat seorang hamba daripada kegembiraan salah seorang di antara kalian yang menemukan kembali untanya yang hilang di padang pasir.” (HR Bukhari dan Muslim)
Bahkan dosa terbesar sekalipun, yaitu syirik, akan diampuni apabila pelakunya bertaubat dan memeluk Islam dengan tulus.
Karena itu, segeralah bertaubat dari setiap dosa yang kita sadari pernah dilakukan. Setelah taubat yang benar, lembaran dosa akan ditutup dan hubungan seorang hamba dengan Allah kembali bersih.
Allah berfirman:
فَإِن تَابُوا۟ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُا۟ ٱلزَّكَوٰةَ فَإِخْوَٰنُكُمْ فِى ٱلدِّينِ ۗ وَنُفَصِّلُ ٱلْـَٔايَـٰتِ لِقَوْمٍۢ يَعْلَمُونَ ١١
“Dan jika mereka bertobat, melaksanakan salat dan menunaikan zakat, maka (berarti mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS at-Taubah: 11)
Adapun syarat-syarat taubat nasuha adalah meninggalkan dosa yang dilakukan, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi, menyesali perbuatan tersebut dengan sungguh-sungguh, serta mengembalikan hak-hak orang lain apabila dosa itu berkaitan dengan hak sesama manusia.
2. Memperbanyak Istighfar
Allah Ta’ala berfirman:
وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا۟ فَـٰحِشَةً أَوْ ظَلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا۟ ٱللَّهَ فَٱسْتَغْفَرُوا۟ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلُوا۟ وَهُمْ يَعْلَمُونَ ١٣٥
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.” (QS Ali Imran: 135)
3. Memperbanyak amal saleh
Allah berfirman:
وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَىِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفًۭا مِّنَ ٱلَّيْلِ ۚ إِنَّ ٱلْحَسَنَـٰتِ يُذْهِبْنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّٰكِرِينَ ١١٤
“Dan laksanakanlah salat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah).” (QS Hud: 114)
Rasulullah SAW bersabda:
اتق الله حيثما كنت، وأتبع السيئة الحسنة تمحُها، وخالق الناس بخلق حسن
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR Tirmidzi)
4. Melaksanakan shalat dua rakaat setelah berbuat dosa
Rasulullah SAW bersabda:
من عبد يذنب ذنبًا، فيحسن الطهور، ثم يقوم فيصلي ركعتين، ثم يستغفر الله، إلا غفر الله له
“Tidaklah seorang hamba melakukan suatu dosa, kemudian ia berwudu dengan sempurna, lalu berdiri mengerjakan salat dua rakaat, kemudian memohon ampun kepada Allah, melainkan Allah akan mengampuni dosanya.” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi)
5. Menjaga shalat wajib
Rasulullah SAW bersabda:
الصلوات الخمس والجمعة إلى الجمعة ورمضان إلى رمضان مكفِّرات لما بينهن، إذا اجتنبت الكبائر
“Shalat lima waktu, dari Jumat ke Jumat berikutnya, dan dari Ramadhan ke Ramadhan berikutnya menjadi penghapus dosa-dosa yang terjadi di antara keduanya, selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR Muslim)
6. Mendoakan saudara sesama Muslim tanpa sepengetahuannya
Rasulullah SAW bersabda:
ما من عبد مسلم يدعو لأخيه بظهر الغيب، إلا قال الملَك: ولك بمثل
“Tidaklah seorang muslim mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat berkata: ‘Amin, dan semoga engkau juga memperoleh yang serupa.'”
7. Menghadiri majelis dzikir
Rasulullah SAW bersabda:
ما جلس قوم يذكرون الله عز وجل، إلا ناداهم منادٍ من السماء: قوموا مغفورًا لكم، قد بُدلت سيئاتكم حسنات
“Tidaklah suatu kaum duduk untuk berdzikir kepada Allah, melainkan akan ada penyeru dari langit yang berkata: ‘Bangkitlah kalian, dosa-dosa kalian telah diampuni, bahkan keburukan kalian telah diganti menjadi kebaikan.'”
8. Memperbanyak dzikir kepada Allah
Rasulullah SAW bersabda:
من سبح الله في دبر كل صلاة ثلاثًا وثلاثين، وحمد الله ثلاثًا وثلاثين، وكبر الله ثلاثًا وثلاثين، فتلك تسعة وتسعون، وقال تمام المائة: لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد، وهو على كل شيء قدير، غُفرت خطاياه وإن كانت مثل زبد البحر
“Barang siapa setiap selesai shalat membaca tasbih sebanyak 33 kali, tahmid 33 kali, takbir 33 kali sehingga berjumlah 99, kemudian menyempurnakannya dengan membaca: ‘Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir,’ maka dosa-dosanya akan diampuni sekalipun sebanyak buih di lautan.” (HR Muslim)
Masih ada berbagai sebab lain yang dapat menghindarkan seorang hamba dari hukuman akibat dosanya. Di antaranya adalah syafaat Rasulullah SAW pada hari kiamat, berbagai ujian dan musibah yang menimpa seseorang di dunia maupun di alam kubur, dan beratnya berbagai peristiwa yang dihadapi pada Hari Kiamat.
Selain itu pula, amal-amal saleh yang dihadiahkan oleh orang yang masih hidup kepada orang yang telah meninggal, serta yang paling agung adalah apabila seseorang memperoleh limpahan rahmat dari Allah Yang Maha Pengasih.
Namun apabila seluruh sebab itu tidak diperoleh oleh seseorang, maka janganlah dia menyalahkan siapa pun selain dirinya sendiri. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam hadis qudsi berikut:
إنما هي أعمالكم أحصيها لكم، ثم أوفيكم إياها، فمن وجد خيرًا فليحمد الله، ومن وجد غير ذلك فلا يلومن إلا نفسه
“Sesungguhnya semua itu adalah amal-amal kalian yang Aku catat untuk kalian, kemudian Aku akan memberikan balasannya secara sempurna. Maka barang siapa memperoleh kebaikan, hendaklah ia memuji Allah. Dan barang siapa memperoleh selain itu, maka janganlah ia mencela siapa pun selain dirinya sendiri.” (HR Muslim)





