spot_img
Jumat, Februari 20, 2026
spot_img
spot_img

7 Rahasia Kalimat Syahadat Menurut Ulama

KNews.id – Jakarta, Dua kalimat syahadat merupakan fondasi utama dalam agama Islam, yang diucapkan dengan penuh keyakinan dan kesadaran oleh setiap muslim sebagai tanda pengakuan iman.

Kalimat meniadakan Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah merupakan inti dari seluruh ajaran Islam. Para ulama sejak masa klasik hingga modern menjelaskan bahwa di dalam dua kalimat ini tersimpan rahasia tauhid, pengakuan eksistensial manusia kepada Penciptanya, serta pemisah antara iman dan kufur.

- Advertisement -

Berikut penjelasannya dalam tujuh bagian ringkas dengan sumber rujukan:

  1. Makna dan struktur syahadat

Dua kalimat syahadat adalah:

- Advertisement -

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ

“Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Al-Ghazali, dalam Ihya’ ‘Ulumid Din menjelaskan kalimat pertama disebut syahadat tauhid, menegaskan bahwa Allah satu-satunya yang berhak disembah.

Kalimat kedua disebut syahadat risalah, menegaskan bahwa Rasulullah ﷺ adalah perantara wahyu dan teladan pengamalan tauhid.

  1. Rahasia pertama: Penegasan keesaan mutlak Allah (Tauhid Uluhiyyah)

Menurut Imam Fakhruddin ar-Razi dalam Tafsir al-Kabir (tafsir QS. Muhammad: 19), “Kalimat lā ilāha illallāh adalah ringkasan seluruh makna Al-Qur’an, sebab semua hukum, akidah, dan amal berpangkal pada pengakuan keesaan Allah.”

Makna “lā ilāha” (tiada tuhan) menafikan seluruh bentuk sesembahan palsu; “illallāh” menetapkan hanya Allah sebagai satu-satunya Dzat yang berhak diibadahi.

- Advertisement -

Inilah rahasia tawḥīd al-ulūhiyyah — inti dari iman yang memurnikan penghambaan.

  1. Rahasia kedua: Keterikatan antara pengakuan dan kesaksian

Kata “asyhadu” berasal dari akar kata syahida (شَهِدَ), yang berarti melihat dengan hati dan menyaksikan dengan ilmu dan keyakinan.

Menurut Ibn Qayyim al-Jauziyyah (Madarij as-Salikin, jilid I, hlm. 76),

“Syahadat bukan sekadar ucapan lisan, melainkan kesaksian hati yang disertai pembenaran, penerimaan, dan kepatuhan.”

Artinya, rahasia syahadat terletak pada kesatuan antara ilmu, keyakinan, dan tindakan — bukan hanya pernyataan verbal.

  1. Rahasia ketiga: Penolakan terhadap segala bentuk perantara (syirik)

Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 163

وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ ۖ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلرَّحْمَٰنُ ٱلرَّحِيمُ

 

wa ilāhukum ilāhuw wāḥid, lā ilāha illā huwar-raḥmānur-raḥīm

Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan:

“Syahadat meniadakan seluruh sekutu bagi Allah dalam penciptaan, pemeliharaan, dan ibadah.”

Artinya, siapa pun yang bersyahadat secara benar telah membebaskan diri dari segala bentuk ketergantungan selain kepada Allah — baik manusia, benda, maupun kekuasaan.

Ini menjadikan lā ilāha illallāh sebagai kalimat pembebasan spiritual dan sosial.

  1. Rahasia keempat: Pengakuan terhadap risalah dan ketaatan

Syahadat kedua (Muhammad Rasulullah) memiliki makna mendalam.

Menurut Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (Kitab al-Iman):

“Makna syahadat Muhammad Rasulullah adalah menaati apa yang diperintah, membenarkan apa yang disampaikan, menjauhi apa yang dilarang, dan beribadah kepada Allah hanya dengan cara yang disyariatkan melalui beliau.”

Jadi, rahasia kalimat ini bukan sekadar pengakuan sejarah, melainkan komitmen hidup meneladani Nabi.

  1. Rahasia kelima: Keterpaduan antara ma‘rifah, amal, dan cinta

Imam Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumid Din (juz I) menulis:

“Barang siapa mengucapkan lā ilāha illallāh dengan hati yang sadar, ia telah menegaskan cinta dan penyerahan total kepada Allah; maka kalimat ini menjadi cahaya yang menghapus kegelapan batin.”

Dengan kata lain, rahasia syahadat tidak berhenti pada akidah rasional, tetapi juga membangun kedalaman spiritual dan ketenangan jiwa.

  1. Rahasia keenam: Kunci surga dan pemisah iman–kufur

Dalam hadis sahih, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa yang akhir perkataannya lā ilāha illallāh, maka ia masuk surga.”

(HR. Abu Dawud no. 3116, Tirmidzi no. 1631)

Para ulama menafsirkan bahwa syahadat adalah kunci surga, tetapi gigi kuncinya adalah amal saleh dan pemurnian hati (Ibn Rajab al-Hanbali, Kalimatul Ikhlas). Inilah rahasia terakhir: kalimat ini sederhana di lisan, tetapi berat di timbangan amal karena mengandung seluruh isi ajaran Islam.

(FHD/Rpk)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini