KNews.id – Jakarta – Sesungguhnya amal seseorang akan terputus dengan kematiannya. Demikian pula aliran pahala yang terus diperbarui untuknya akan terhenti, kecuali dalam beberapa perkara. Hal itu karena orang yang telah meninggal tersebut menjadi sebab lahirnya amal-amal itu. Anak yang saleh merupakan bagian dari hasil didikannya.
Demikian pula ilmu yang ia tinggalkan melalui pengajaran maupun karya tulis. Begitu juga perjuangan menjaga kaum Muslimin di jalan Allah dan sedekah jariyah, yaitu wakaf.
Berikut penjelasan mengenai amal-amal tersebut.
1. Meninggal dalam keadaan berjaga perang di Jalan Allah SWT
Ribath adalah menetap di suatu tempat yang menjadi perbatasan antara kaum Muslimin dan pihak yang memusuhi mereka, dengan tujuan menjaga dan melindungi kaum Muslimin.
Rasulullah SAW bersabda:
رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ، وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ، وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ، وَأَمِنَ الْفَتَّانَ
“Berjaga-jaga selama sehari semalam di jalan Allah lebih baik daripada berpuasa dan melaksanakan qiyam selama sebulan. Jika ia meninggal, amal yang biasa dilakukannya akan terus mengalir pahalanya, rezekinya tetap diberikan kepadanya, dan ia terlindungi dari fitnah.” (HR Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan:
وَبَعَثَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ آمِنًا مِنَ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ
“Allah akan membangkitkannya pada hari Kiamat dalam keadaan aman dari ketakutan yang paling besar.” (HR Ibnu Majah, dinilai sahih)
Nabi SAW juga bersabda:
كُلُّ مَيِّتٍ يُخْتَمُ عَلَى عَمَلِهِ، إِلَّا الَّذِي مَاتَ مُرَابِطًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ؛ فَإِنَّهُ يُنْمَى لَهُ عَمَلُهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَيَأْمَنُ مِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ
“Setiap orang yang meninggal, amalnya akan ditutup, kecuali orang yang meninggal dalam keadaan berjaga di jalan Allah. Sesungguhnya amalnya akan terus berkembang hingga hari Kiamat dan ia akan aman dari fitnah kubur.”
(HR Tirmidzi, dinilai sahih)
Demikianlah besarnya keutamaan orang yang meninggal ketika sedang menjalankan tugas ribath di jalan Allah SWT.
Amal yang selama ini dikerjakannya akan terus berkembang dan dilipatgandakan pahalanya hingga hari Kiamat. Ia juga mendapatkan keamanan dari azab dan fitnah kubur.
Imam as-Suyuthi RA menjelaskan bahwa sejumlah ulama menjadikan hadis tersebut sebagai dalil bahwa orang yang melakukan ribath tidak akan mengalami pertanyaan di dalam kubur sebagaimana orang yang gugur sebagai syahid.
Orang yang melakukan ribath juga terus mendapatkan rezekinya. Allah SWT berfirman:
وَلَا تَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ قُتِلُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمْوَٰتًۢا ۚ بَلْ أَحْيَآءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ ١٦٩
“Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup, di sisi Tuhannya mendapat rezeki.” (QS Ali Imran: 169)
Pada hari Kiamat, orang yang melakukan ribath juga akan dibangkitkan dalam keadaan aman dari ketakutan yang paling besar. Allah SWT berfirman:
لَا يَحْزُنُهُمُ ٱلْفَزَعُ ٱلْأَكْبَرُ وَتَتَلَقَّىٰهُمُ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ هَـٰذَا يَوْمُكُمُ ٱلَّذِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ ١٠٣
Kejutan yang dahsyat tidak membuat mereka merasa sedih, dan para malaikat akan menyambut mereka (dengan ucapan), “Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu.” (QS Al-Anbiya: 103)
Allah SWT juga berfirman:
وَيَوْمَ يُنفَخُ فِى ٱلصُّورِ فَفَزِعَ مَن فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَمَن فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا مَن شَآءَ ٱللَّهُ ۚ وَكُلٌّ أَتَوْهُ دَٰخِرِينَ ٨٧
“Dan (ingatlah) pada hari (ketika) sangkakala ditiup, maka terkejutlah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.”
Betapa banyak pahala besar yang diperoleh orang yang meninggal dalam keadaan berjaga di jalan Allah. Keutamaan itu telah diraih sejak zaman para sahabat RA, generasi tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, dan akan terus berlangsung hingga Allah mewarisi bumi beserta seluruh penghuninya.
Allah SWT berfirman:
سَابِقُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍۢ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ ٱللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَآءُ ۚ وَٱللَّهُ ذُو ٱلْفَضْلِ ٱلْعَظِيمِ ٢١
“Berlomba-lombalah kamu untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS Al-Hadid: 21)
2. Sedekah jariyah
Sedekah jariyah adalah sedekah yang manfaatnya terus mengalir dan berlangsung secara berkesinambungan, seperti wakaf yang diperuntukkan bagi berbagai bentuk kebajikan.
Bentuknya sangat beragam. Di antaranya adalah menggali sumur untuk menyediakan air bagi masyarakat, membangun tempat penampungan atau perlindungan bagi mereka yang membutuhkan, menanam pohon yang terus memberikan manfaat, membangun masjid dan rumah bagi anak yatim, serta bentuk wakaf lainnya.
Termasuk di dalamnya adalah donor organ dengan ketentuan dan batasan syariat yang telah ditetapkan, antara lain tidak menjadikannya sebagai komoditas yang diperjualbelikan.
Donor tersebut dapat dilakukan dari orang yang masih hidup kepada orang yang masih hidup, atau dari orang yang telah meninggal kepada orang yang masih hidup, sesuai ketentuan yang berlaku.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ
“Sesungguhnya di antara amal dan kebaikan seorang Mukmin yang akan terus menyusulnya setelah ia meninggal adalah…”
Kemudian beliau menyebutkan di antaranya:
مُصْحَفًا وَرَّثَهُ، أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ، أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ، أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ، أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ
“Mushaf yang ia wariskan, masjid yang ia bangun, rumah yang ia bangun untuk ibnu sabil, sungai yang ia alirkan, atau sedekah yang ia keluarkan dari hartanya ketika ia sehat dan masih hidup. Semua itu akan terus sampai kepadanya setelah kematiannya.”
(HR Ibnu Majah, dinilai hasan)
Rasulullah SAW juga bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ…
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah…” (HR Muslim)
Dalam hadis lain, beliau bersabda:
خَيْرُ مَا يُخَلِّفُ الرَّجُلُ مِنْ بَعْدِهِ ثَلَاثٌ
“Sebaik-baik peninggalan yang ditinggalkan seseorang setelah kematiannya ada tiga…”
Di antaranya adalah:
صَدَقَةٌ تَجْرِي يَبْلُغُهُ أَجْرُهَا
“Sedekah yang terus mengalir, yang pahalanya sampai kepadanya.” (HR Ibnu Majah, dinilai sahih)
Imam an-Nawawi RA menjelaskan bahwa hadis tersebut menjadi dalil atas sahnya wakaf dan besarnya pahala yang diperoleh darinya. Hadis itu juga menunjukkan bahwa pahala sedekah dapat sampai kepada orang yang telah meninggal berdasarkan kesepakatan para ulama.
Karena itu, segeralah beramal sebelum usia berakhir. Manfaatkan, wahai hamba Allah, nikmat yang telah Allah karuniakan kepadamu, termasuk harta yang engkau miliki.
Sisihkan sebagian untuk diwakafkan pada tempat yang tepat dan bermanfaat, sehingga pahalanya terus mengalir kepadamu ketika engkau telah berada di dalam kubur.
Sesungguhnya orang yang mendapatkan taufik adalah orang yang mempersiapkan amal untuk kehidupan setelah kematian. Sebaliknya, orang yang merugi adalah mereka yang hanya mengikuti hawa nafsunya dan menjadikan amalnya sebatas angan-angan.
3. Ilmu yang bermanfaat
Yang dimaksud dengan ilmu, ketika disebut secara umum dalam pembahasan ini, adalah ilmu yang bersumber dari Alquran dan Sunnah.
Imam ash-Shan’ani RA menjelaskan bahwa ilmu apa pun yang menjadi sarana untuk memahami ayat Alquran yang muhkam, sunnah yang diamalkan, atau kewajiban yang benar dan adil, maka ilmu tersebut memiliki kedudukan yang mulia.
Mengajarkan ilmu mencakup berbagai bentuk, seperti menulis buku, mengajar, menyalin karya ilmiah, dan mengoreksi atau memperbaiki kitab-kitab keislaman.
Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara…”Salah satunya adalah: “Ilmu yang bermanfaat.” (HR Muslim)
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda:
خَيْرُ مَا يُخَلِّفُ الرَّجُلُ مِنْ بَعْدِهِ ثَلَاثٌ عِلْمٌ يُعْمَلُ بِهِ مِنْ بَعْدِهِ
“Sebaik-baik peninggalan yang ditinggalkan seseorang setelah kematiannya ada tiga…Di antaranya: Pertama “Ilmu yang diamalkan setelah ia meninggal.”
(HR Ibnu Majah, dinilai sahih)
Beliau juga bersabda:
إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ: عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ…»
“Sesungguhnya di antara amal dan kebaikan seorang Mukmin yang akan terus menyusulnya setelah ia meninggal adalah ilmu yang ia ajarkan dan sebarkan…”
(HR. Ibnu Majah, dinilai hasan)
Imam an-Nawawi RA mengatakan bahwa hadis tersebut menjelaskan keutamaan ilmu, dorongan untuk memperbanyaknya, serta anjuran untuk mewariskannya kepada generasi berikutnya melalui pengajaran, penulisan, dan penjelasan. Karena itu, seseorang hendaknya memilih ilmu yang paling bermanfaat dan paling dibutuhkan.
Dakwah kepada Allah SWT juga termasuk dalam cakupan mengajarkan ilmu yang bermanfaat, yang manfaatnya dapat terus dirasakan seseorang bahkan setelah ia meninggal dunia.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا
“Barang siapa mengajak kepada petunjuk, ia akan memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka.”
(HR Muslim)
Karena itu, dakwah kepada Allah SWT merupakan salah satu bidang amal yang paling besar dan paling luas manfaatnya dalam memperpanjang usia produktif seseorang, menambah pahala, dan membuat kebaikannya tetap mengalir setelah ia meninggal dunia.
4. Doa Anak yang Saleh
Anak yang saleh, baik laki-laki maupun perempuan, merupakan salah satu amal yang manfaatnya terus mengalir kepada orang tua setelah mereka meninggal dunia.
Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara…”
Salah satunya adalah: “Anak saleh yang mendoakannya.”
(HR Muslim)
Rasulullah SAW juga bersabda:
خَيْرُ مَا يُخَلِّفُ الرَّجُلُ مِنْ بَعْدِهِ ثَلَاثٌ: وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ…
“Sebaik-baik peninggalan yang ditinggalkan seseorang setelah kematiannya ada tiga: anak saleh yang mendoakannya…” (HR Ibnu Majah, dinilai sahih)
Beliau juga bersabda:
إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ
وَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ
“Sesungguhnya di antara amal dan kebaikan seorang Mukmin yang akan terus menyusulnya setelah ia meninggal adalah anak saleh yang ia tinggalkan.” ( HR Ibnu Majah, dinilai hasan)
Imam an-Nawawi RA menjelaskan bahwa hadis tersebut menunjukkan keutamaan pernikahan karena adanya harapan untuk memperoleh anak yang saleh. Hadis itu juga menjadi dalil bahwa doa orang yang masih hidup dapat memberikan manfaat kepada orang yang telah meninggal dunia berdasarkan kesepakatan para ulama.
Anak yang saleh merupakan perpanjangan usia bagi kedua orang tuanya sekaligus menjadi perpanjangan amal kebaikan mereka setelah kematian.
Karena itu, kedua orang tua hendaknya bersungguh-sungguh mendidik dan membesarkan anak-anak mereka dalam ketaatan kepada Allah SWT. Nilai dan besarnya karunia memiliki anak yang saleh sering kali baru benar-benar dirasakan oleh orang tua ketika mereka telah diletakkan di dalam kubur.
Saat itulah mereka menyaksikan hadiah demi hadiah yang terus berdatangan ke dalam timbangan amal kebaikan mereka: pahala dari istighfar yang dipanjatkan anak-anak mereka, sedekah yang mereka lakukan atas nama orang tua, doa-doa yang mereka panjatkan, serta berbagai amal kebaikan lainnya yang dipersembahkan oleh putra-putri mereka.
Maka, mendidik anak agar menjadi saleh bukan hanya investasi untuk kehidupan mereka di dunia, tetapi juga bekal yang akan terus memberikan manfaat kepada orang tua bahkan setelah mereka meninggalkan dunia.






