spot_img
Jumat, Februari 23, 2024
spot_img

Wasiat Malaikat Jibril untuk Umat Islam yang Patut Direnungkan!

KNews.id – Dalam sebuah riwayat hadis dikisahkan, suatu ketika malaikat Jibril ‘alaihissalam mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyampaikan nasihat. Nasihat malaikat Jibril tersebut yang berbunyi,
يَا مُحَمَّدُ، عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ، وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ، وَاعْلَمْ أَنَّ شَرَفَ الْمُؤْمِنِ قِيَامُ اللَّيْلِ، وَعِزَّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ
“Wahai Muhammad!(1) Hiduplah sesukamu, tapi ingat engkau akan mati;(2) berbuatlah sesukamu, tapi ingat engkau akan diberi balasan karenanya;(3) cintailah siapa pun yang engkau suka, tapi ingat engkau akan berpisah dengannya;(4) ketahuilah bahwa kemuliaan seorang mukmin adalah berdirinya ia pada malam hari (melaksanakan salat malam),(5) dan kehormatannya adalah ketidakbutuhannya terhadap manusia.” (HR Hakim no 7921 dan HR Ath Thabarani no. 4278)
Nasihat mulia ini, meskipun pada mulanya diperuntukkan kepada Rasulullah, namun karena lafalnya mengandung makna umum, maka nasihat ini pun berlaku untuk seluruh umat Islam.
Hal ini selaras dengan kaidah yang disebutkan oleh para ahli ushul, yang berbunyi,
اَلْعِبْرَةُ بِعُمُوْمِ اللَّفْظِ لَا بِخُصُوْصِ السَّبَبِ
“Pelajaran yang diambil adalah dengan keumuman lafalnya, bukan dengan kekhususan sebabnya.”
Wasiat Malaikat Jibril
Nasihat atau wasiat malaikat Jibril kepada Rasulullah tersebut, menurut Ustaz Amir Sahidin, M.Ag yang juga pengajar PPTQ Ibnu Mas’ud, Purbalingga, mengandung lima poin penting yang patut untuk kita renungkan bersama. Poin penting tersebut, yakni:
1. Hiduplah sesukamu, tapi ingat engkau akan mati
Poin nasihat yang pertama ini merupakan sindiran sekaligus peringatan bahwa kematian itu pasti. Setiap manusia pasti akan menghadapi kematiannya.
Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat Ali Imran: 185,
كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.”
Kematian sendiri merupakan nasihat tanpa perlu kata-kata. Demikian karena apabila seseorang mendapat kabar kematian orang ia cintai, maka kematian tersebut sudah cukup menjadikannya bersedih, menangis, dan mengenang segala yang pernah dilakukan bersamanya.
Maka, marilah kita senantiasa mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian.
2. Berbuatlah sesukamu, tapi ingat engkau akan diberi balasan karenanya
Poin nasihat kedua ini merupakan pengingat bahwa setiap amalan kita, baik kecil maupun besar akan dibalas oleh Allah subhanahu wata’ala.
Inilah keadilan Allah Ta’ala. Sehingga jika ada seseorang yang berbuat salah, kemudian ia selamat di pengadilan dunia, maka ia tidak akan selamat dari pengadilan akhirat.
Sebaliknya, sekecil apa pun perbuatan kita, walaupun perbuatan tersebut tidak dianggap di dunia, maka pasti ia pun akan mendapat balasannya di akhirat.
Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat Az-Zalzalah: 7—8,
فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗ وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ
“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya, dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya.”
3. Cintailah siapa pun, tapi ingat engkau akan berpisah dengannya
Poin nasihat ketiga ini mengingatkan kepada kita agar mencintai segala hal di dunia ini secara sewajarnya saja, dan tidak melebihi cinta kita kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.
Terkait hal ini, Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah: 165,
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِ ۗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰهِ ۙ
“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.”
Untuk itulah, Rasulullah mengingatkan untuk mencintai dan membenci sesuai porsinya karena bisa jadi orang yang dicintai menjadi musuhnya pada suatu hari nanti. Juga sebaliknya, orang yang dibenci pun bisa jadi suatu saat nanti menjadi orang yang dicintai.
Rasulullah bersabda dalam riwayat at-Tirmidzi,
أَحْبِبْ حَبِيْبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُوْنَ بَغِيْضَكَ يَوْمًا مَا وَأَبْغِضْ بَغِيْضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُوْنَ حَبِيْبَكَ يَوْمًا مَا
“Cintailah orang yang engkau cintai sekadarnya saja karena boleh jadi kelak engkau akan membencinya. Bencilah orang yang engkau benci juga sekadarnya saja karena boleh jadi kelak dia akan menjadi orang yang engkau cintai.” (HR at Tirmidzi no 1997)
4. Kemuliaan seorang mukmin adalah salat malamnya
Poin nasihat keempat ini menegaskan kepada kita bahwa salat malam memiliki keutamaan yang amat besar.
Demikian itu karena salat malam lebih dekat dengan keikhlasan, di mana seorang hamba menyisihkan waktu istirahatnya untuk berdekat diri dengan Rabb-nya tanpa diketahui manusia lainnya.
Untuk itu, salat malam merupakan kebiasaan orang-orang saleh terdahulu hingga sekarang. Rasulullah bersabda dalam riwayat at-Tirmidzi, hadits nomor 3472,
عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأَبُ الصَّالِحِيْنَ قَبْلَكُمْ وَإِنَّ قِيَامَ اللَّيْلِ قُرْبَةٌ إِلَى اللَّهِ وَمَنْهَاةٌ عَنِ الْإِثْمِ وَتَكْفِيْرٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمَطْرَدَةٌ لِلدَّاءِ عَنْ الْجَسَدِ
“Hendaknya kalian melakukan shalat malam karena salat malam adalah hidangan orang-orang saleh sebelum kalian. Dan sesungguhnya, salat malam mendekatkan kepada Allah, menghalangi dari dosa, menghapus kesalahan, serta menolak penyakit dari badan.”
5. Kehormatannya adalah ketidakbutuhannya terhadap manusia
Poin nasihat terakhir ini menekankan kepada kita, bahwa merasa cukup dari manusia merupakan kemuliaan dan keperkasaan dalam Islam. Demikian itu, karena kita diperintahkan oleh Rasulullah untuk senantiasa memberi, bukan meminta-minta kepada orang lain.
Rasulullah bersabda dalam riwayat al-Bukhari, hadits nomor 1429 dan Muslim, hadits nomor 1033, yang berbunyi,
اَلْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى، فَالْيَدُ الْعُلْيَا: هِيَ الْمُنْفِقَةُ، وَالسُّفْلَى: هِيَ السَّائِلَةُ
“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Tangan di atas, yaitu orang yang memberi infak sedangkan tangan di bawah, yaitu orang yang minta-minta.”
- Advertisement -

Berita Lainnya

Direkomendasikan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Berita