spot_img
Sabtu, Maret 2, 2024
spot_img

Utang Bank Ini, di Balik Pertumbuhan Labanya

KNews.id- Bank Mandiri (IDX: BMRI) adalah bank yang berkantor pusat di Jakarta dan merupakan bank terbesar di Indonesia dalam hal aset, pinjaman, dan deposit. Bank ini berdiri pada tanggal 2 Oktober 1998 sebagai bagian dari program restrukturisasi perbankan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia.

Pada bulan Juli 1999, empat bank milik Pemerintah yaitu Bank Bumi Daya (BBD), Bank Dagang Negara (BDN), Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim), dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo), digabungkan ke dalam Bank Mandiri.

- Advertisement -

Bank yang termasuk dalam Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini memiliki prestasi kinerja pada Q1-2019 melesat dengan mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 23,4% menjadi 7,2 triliun. Selain itu, banyak sudah program yang telah dilahirkannya, terbaru adalah Program BUMN Hadir untuk Negeri (BHUN), yang merupakan gagasan dari Kementerian BUMN.

Pertanyaan dari masyarakat, di balik prestasi gemilang itu, apakah dugaan-dugaan permasalahan bank ini sudah terselesaikan?

- Advertisement -

Misalnya, pada tanggal 16 September 2015 Bank Mandiri menandatangani Perjanjian Fasilitas Jangka Panjang Tanpa Agunan dengan CDB atau China Development Bank. Konon, China mengucurkan anggaran untuk membangun kereta api cepat Jakarta – Bandung.

Pinjaman Bank Mandiri dari Bank China (baca CDB) ini terbagi dalam dua fasilitas yaitu:

  • Tranche A berupa pinjaman langsung dari Bank China dalam valuta USD (dollar Amerika) dengan total fasilitas sebesar USD.700.000.000 atau setara dengan Rp 9,6 triliun.
  • Tranche B berupa pinjaman langsung dalam valuta CNY dengan total fasilitas sebesar CNY 1.908.420.000 atau setara dengan Rp 4 triliun.

Total pinjaman Bank Mandiri ke Bank China sebesar Rp 13,6 triliun ini sudah dicairkan pada tanggal 13 November 2015, 3 Desember 2015, 11 Desember 2015, 18 Desember 2015, dan 25 Desember 2018.

Dari data yang diperoleh Tim Investigator KA, tidak ada informasi terkait pinjaman Bank Mandiri ke Bank China ini, diperuntukkan apa saja.

Kemudian persoalan utang pajak Bank Mandiri yang terungkap melejit hanya dalam kurun waktu tiga bulan saja. Dari laporan keuangan Bank Mandiri di tahun 2018, tercatat nilai utang pajaknya ada sebesar Rp1.009.832.000.000. Utang ini mengalami kenaikan cukup signifkan, sebesar Rp370.045.000 menjadi Rp1.379.877.000.000 per Maret 2018.

Selain nilai utang pajak yang meningkat, masih dari data yang diterima Tim Investigator KA, terlihat dalam catatan tersebut beban yang masih harus dibayar oleh perusahaan perbankan plat merah ini. Beban tersebut nilainya sangat fantastis, yakni sebesar Rp3.970.824.000.000. Meski nilai tersebut mengalami penurunan, tetapi nilai penurunannya sangat kecil, hanya berkisar Rp336.369.000.000.

Pinjaman yang diterima oleh Bank Mandiri di tahun 2018 itu juga terus mengalami kenaikan. Dari awalnya sebesar Rp35.703.679.000.000 di tahun 2017, meningkat cukup tajam hingga lebih dari Rp 5,7 triliun menjadi Rp41.496.805.000.000. Bank Mandiri boleh saja bangga karena berhasil membubuhkan kinerjanya yang cukup baik. Misalnya dengan memperoleh laba bersih hingga puluhan triliun.

Akan tetapi, apabila capaian tersebut tidak dibarengi dengan adanya pengurangan terhadap utang-utang yang ada, maka perusahaan tersebut sebenarnya sama saja di kondisi sebelumnya. Memiliki pendapatan kecil dan memiliki utang yang kecil juga. (FT&Tim Investigator KA)

Berita Lainnya

Direkomendasikan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti

Terpopuler

Terkini