spot_img
Sabtu, Juni 15, 2024
spot_img

Tak Mau Disetir AS, China dan Thailand Sepakat Tinggalkan Dolar

KNews.id – JAKARTA, China dan Thailand sepakat untuk meninggalkan dolar Amerika Serikat (AS). Bank sentral kedua negara menandatangani perjanjian untuk memperkuat kerja sama transaksi lintas batas dalam mata uang lokal.

Kebijakan serupa juga baru saja dilakukan India dan Nigeria sepekan lalu. Ini menunjukkan bahwa dedolarisasi kian nyata dan telah ditekankan kembai Presiden Rusia Vladimir Putin saat kunjungannya ke Beijing baru-baru ini. Sebagaimana diketahui, Thailand dan China bekerja sama dalam transaksi mBridge.

- Advertisement -

Sejumlah pihak beranggapan proyek transaksi CBDC internasional ini dapat mematahkan monopoli jaringan SWIFT. Proyek ini melibatkan Bank for International Settlements (BIS) dan Bank Sentral China, Hong Kong, Thailand, dan Uni Emirat Arab (UEA).

China terus meninggalkan dolar AS karena khawatir bahwa ekonominya bakal terus bergantung pada jaringan pembayaran yang dikendalikan Barat. Mereka belajar dari Iran dan Rusia yang tetap berdiri sendiri meskipun terputus dari jaringan SWIFT. Kedua negara secara terbuka memusuhi dolar AS.

- Advertisement -

Beberapa orang mungkin bertanya-tanya mengapa China mengerjakan proyek mBridge ketika mereka sudah menggunakan Sistem Pembayaran Antar Bank Lintas Batas China atau CPIS. Melansir Contribune, pertumbuhan CPIS sangat pesat sejak diluncurkan pada 2015. CPIS memproses lebih dari 123 triliun yuan pada tahun 2023, bandingkan dengan 10 triliun yuan pada 2021 dan 2 triliun yuan pada 2017.

Sekarang CPIS menghubungkan hampir 1.500 bank di 114 negara. Proyek mBridge bertujuan untuk menciptakan jaringan pembayaran internasional di CBDC yang tidak lagi membutuhkan sistem SWIFT.

- Advertisement -

Bank-bank akan terhubung secara langsung melalui bank sentral mereka. Di China, mBridge terhubung ke sistem e-CNY CBDC. Beberapa pejabat AS khawatir bahwa jaringan mBridge akan memberikan keunggulan bagi Beijing dalam menggunakan CBDC untuk merevolusi pembayaran internasional.

AS khawatir bahwa hal ini akan memungkinkan mata uang lain untuk membayangi dolar, mata uang yang menjadi mata uang yang digunakan oleh setengah dari sekitar USD32 triliun yang diperdagangkan secara global setiap tahunnya.

Direktur GeoEconomics Center di lembaga think tank Amerika, Atlantic Council Josh Lipsky mengungkapkan fakta bahwa mBridge terbentuk di bawah naungan BIS membuat banyak orang di Washington khawatir. Terutama karena China menyingkirkan dolar dengan kecepatan yang luar biasa.

Adapun teknologinya menggunakan blockchain yang dibangun oleh China. Blockchain menggunakan bahasa kontrak pintar Solidity milik Ethereum. Tujuannya adalah untuk bersaing dengan sistem yang ada saat ini.

Pembayaran saat ini terjadi dalam dua tahap, yakni pesan dan pergerakan uang. Sebagai contoh, jika Anda ingin membayar seseorang di China, bank saya harus memiliki akun (Nostro) di bank China dan meminta melalui pesan cepat untuk membayar penerima.

Setelah menerima pesan tersebut, bank China mentransfer uang ke penerima yang sering kali berada di bank lain. Dalam hal ini, transfer nasional China akan diperlukan yang merupakan langkah ketiga.

Selain itu, jika bank Anda tidak memiliki akun Nostro di bank China, bank harus mengirim pembayaran melalui bank lain yang memiliki akun di China, sehingga menimbulkan biaya tambahan dan langkah keempat. Dengan mBridge, perjanjiannya adalah bank tidak lagi memerlukan rekening bank di bank China.

Bank akan langsung masuk ke mBridge untuk membeli e-CNY (yuan CBDC) sebelum mentransfernya langsung ke bank penerima di China.

Menghilangkan pesan berarti bahwa bank tidak perlu lagi memiliki rekening asing yang penuh dengan likuiditas sehingga mengurangi biaya pembayaran lintas batas. Agar dapat berfungsi, nilai tukar di mBridge harus sangat kompetitif.

(Zs/Snd)

Berita Lainnya

Direkomendasikan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti

Terpopuler

Terkini