spot_img
Minggu, April 21, 2024
spot_img

Program Makan Siang Gratis Berpotensi Mengganggu Pasokan Bahan Pokok & Menaikan Harganya

KNews.id – Jakarta, Syaiful Bahari, Ketua Komunitas Industri Beras Rakyat (KIBAR), menyoroti bahwa program makan siang gratis yang diinisiasi oleh Prabowo-Gibran tidak hanya berpotensi mengganggu pasokan beras, tetapi juga dapat merugikan pasar dan harga daging ayam.

“Sama halnya dengan dengan beras. Produksi daging ayam nasional rata-rata 3,4 juta (kilogram) per tahun, kebutuhan program (makan siang gratis) 1,2 juta per tahun,” ujar Syaiful kepada Tempo, Sabtu, 24 Februari 2024.

- Advertisement -

Syaiful menegaskan, ini berarti sepertiga dari produksi daging ayam akan dialokasikan untuk program makan siang gratis. Kondisi tersebut dapat berdampak pada kerusakan pasar daging ayam, sehingga akan memicu harga daging ayam semakin mahal.

Menurut dia, kemungkinan impor daging ayam juga dapat terjadi jika pasokan dalam negeri tidak mencukupi.

- Advertisement -

“Wacana ini bukannya tidak mungkin dan pernah ada sebelumnya untuk impor daging ayam dari Brazil yang lebih murah. Karena harga pokok produksi unggas di dalam negeri jauh lebih mahal dibandingkan di luar,” lanjutnya.

Adapun dengan kebutuhan susu 4 juta kilo liter yang harus dipenuhi untuk program ini, menurut Syaiful tidak realistis.

- Advertisement -

“Bagaimana mungkin bisa dipenuhi dari dalam negeri. Hampir 75 persen susu diimpor untuk memenuhi konsumsi dalam negeri,” kata Syaiful.

Kemudian, Syaiful juga menyoroti wacana untuk mengembangkan peternakan sapi perah di 20 ribu desa untuk memenuhi program susu gratis.

“Berapa tahun dibutuhkan untuk mengembangbiakkan sapi perah? Program yang tidak masuk akal. Sudah pasti pemenuhannya adalah melalui impor,” imbuhnya.

Ia menyimpulkan, program makan siang dan susu gratis tidak mempunyai keterkaitan dengan swasembada pangan. Justru malah dapat merusak struktur produksi, pasar, dan harga domestik.

“Program TKN itu seolah-olah populis dengan memberi makan bagi orang miskin. Tetapi sebenarnya, program tersebut malah mengorbankan rakyat Indonesia yang saat ini membutuhkan pangan murah dan terjangkau,” lanjut Syaiful.

Sebelumnya, Wakil Ketua Dewan Pakar Tim Kampanye Nasional (TKN), Budiman Sudjatmiko, mengatakan bahwa program makan siang dan susu gratis membutuhkan hingga 6,7 juta ton beras per tahun, 1,2 juta ton daging ayam per tahun, 500 ribu ton daging sapi per tahun, 1 juta ton daging ikan per tahun, berbagai kebutuhan sayur mayur dan buah-buahan, hingga kebutuhan 4 juta kiloliter susu sapi segar per tahun.

Adapun untuk memenuhi kebutuhan pangan dari program tersebut, nantinya pemerintah akan menggunakan konsep collaborative farming yang melibatkan industri pangan nasional. Nantinya, sekitar 10 ribu desa dari total 74.961 desa juga diproyeksikan untuk dilibatkan dalam memproduksi padi. (Zs/TMP).

Berita Lainnya

Direkomendasikan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti

Terpopuler

Terkini