spot_img
Selasa, Juni 18, 2024
spot_img

Patungan Kurban Untuk Idul Adha 2024? Pelajari Ketentuannya Dulu Agar Sah

KNews.id – Hanya beberapa pekan lagi, umat muslim akan segera merayakan hari raya Idul Adha 1445 H. Umat muslim yang berencana akan melaksanakan kurban pada Idul Adha 2024 pun ada yang sudah mulai mempersiapkan segala kebutuhannya.

Terutama soal hewan apa yang akan dikurbankan. Seperti diketahui, kurban merupakan satu dari dua ibadah utama di bulan dzulhijjah yang dikerjakan bertepatan dengan momen Idul Adha, yakni pada 10 Dzulhijjah.

- Advertisement -

Ibadah kurban sendiri menjadi salah satu topik yang selalu dibahas setiap kali momen Idul Adha tiba. Termasuk mengenai hukum kurban secara patungan yang kerap dilakukan oleh umat muslim.

Oleh karena sering diterapkan oleh umat muslim, perlu mengetahui hukum dari kurban secara patungan. Sebab sebagaimana diungkapkan oleh Pendakwah Buya Yahya, hukum kurban secara patungan ini ada yang sifatnya sah dan tidak sah.

- Advertisement -

Lalu, ibadah patungan kurban seperti apa yang dikatakan sah dan tidak sah itu? Simak selengkapnya penjelasan Buya Yahya : 

Hukum kurban secara patungan

- Advertisement -

Dalam sebuah tayangan video yang diunggah di YouTube Al-Bahjah TV pada 29 Juni 2022, Buya Yahya mengatakan, mengenai berkurban secara patungan, ada yang hukumnya sah dan tidak sah.

“Dalam patungan hewan kurban ini, ada yang sah dan ada yang tidak sah,” ujar pengasuh Lembaga Pengembangan Da’wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah tersebut.

Namun dalam hal patungan kurban ini, kata Buya Yahya, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yang berujung pada sah dan tidak sahnya kurban. Hukum patungan, jelas Buya Yahya, menjadi tidak sah jika sekumpulan orang berkurban dengan satu kambing.

Dalam hal ini, Buya Yahya mencontohkan kurban yang dilakukan di lingkungan sekolahan.

“Satu kelas kumpul duit beli satu kambing, kurban dengan satu kambing. Maka yang demikian ini dianggap tidak sah sebagai kurban,” jelas Dai yang bernama lengkap Prof. Yahya Zainul Ma’arif, Lc, MA, PhD tersebut.

Namun meski tidak sah menjadi kurban, sembelihan seekor kambing tersebut tetap menjadi sebuah pahala untuk menyenangkan sesama di Hari Raya Idul Adha.

“Artinya tidak ada kurban patungan (dengan seekor kambing) semacam ini,” imbuh Buya Yahya. “Makanya kalau di SMP SMA ada patungan kurban, itu namanya saja kurban. Tapi (secara hukum) bukan kurban.

 Tapi jangan dilarang juga, kan lumayan ada 10 kambing itu. Biar tidak jadi kurban, maka ia tetap mendapatkan pahala untuk menyenangkan orang di hari itu dengan sembelihan kambing,” sambungnya.

Buya Yahya menambahkan, sembelihan seperti itu tidak disebut sebagai kurban, lantaran hewan yang disembelih hanyalah seekor kambing. Sementara hewan itu diperuntukkan bagi seluruh siswa dalam satu kelas.

“Gak ada satu kambing untuk satu kelas,” ujar Buya Yahya sekali lagi.

Sementara itu, patungan kurban dianggap sah, apabila patungan dilakukan semisal tujuh orang mengumpulkan dana untuk membeli seekor sapi.

“Satu sapi tersebut dijadikan kurban untuk tujuh orang tersebut. Maka patungan yang seperti ini adalah sah sebagai kurban,” jelas Buya Yahya.

Selain itu, Buya Yahya juga memberikan contoh bagaimana pelaksanaan kurban di lingkungan sekolah agar sah menjadi kurban. Misalnya saja seluruh siswa dalam satu kelas berpatungan uang untuk membeli seekor kambing.

Lalu kambing tersebut diberikan kepada salah seorang yang ada di lingkungan sekolah tersebut sebagai kurban atas dirinya. Maka kurban tersebut sah.

“Kurban diberikan kepada salah satu dari mereka. Dia yang kurban. Maka sah jadi kurban. Kita dapat pahala membantu orang berkurban,” papar Buya Yahya.

Jadi kurbannya hanya satu orang. Satu kambing untuk satu orang” sambungnya.

Lebih lanjut Buya Yahya mengatakan, penting untuk menerapkan cara berkurban dengan benar di lembaga pendidikan khususnya yang sering melaksanakan kurban.

“Misalnya para siswa di sekolah mengumpulkan dana untuk membeli satu ekor kambing atau satu ekor sapi, kemudian diberikan kepada guru mereka untuk dijadikan kurban. Maka kambing atau sapi tersebut sah dianggap menjadi kurban dengan catatan setiap guru diberikan satu kambing, atau satu sapi untuk tujuh guru,” kata Buya Yahya.

“Dalam hal ini sang murid memang gak berkurban. Sang murid mendapat pahala besar karena membantu gurunya, dan sang guru mendapat pahala kurban,” pungkasnya.

(Zs/Trbn)

Berita Lainnya

Direkomendasikan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti

Terpopuler

Terkini