spot_img
Minggu, Februari 25, 2024
spot_img

Pakar Sebut Pertemuan Jokowi dan AHY untuk Pastikan Mesin Politik Prabowo-Gibran Berjalan Optimal

KNews.id –  Dosen Ilmu Politik dan dan International Studies Universitas Paramadina Ahmad Khoirul Umam merespons pertemuan antara Presiden Joko Widodo atau Jokowi dengan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono pada Ahad pagi, 28 Januari 2024 di Yogyakarta.

Menurut Ahmad, pertemuan tersebut merupakan bentuk pengakuan terhadap peran Partai Demokrat dalam pemenangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka di Pilpres 2024.

- Advertisement -

“Jokowi tampaknya ingin memastikan infrastruktur pemenangan dan mesin politik Prabowo-Gibran benar-benar berjalan optimal, jelang 16 hari menuju Pemilu pada 14 Februari 2024 mendatang,” kata Ahmad dalam keterangan tertulisnya Ahad 28 Januari 2024.

Presiden Jokowi bertemu dengan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY pada Ahad pagi, 28 Januari 2024. Pertemuan keduanya dilakukan di rumah makan Gudeg Yu Jum Wijilan, Yogjakarta, pada pukul 08.00 WIB.

- Advertisement -

Juru Bicara Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra mengatakan, pertemuan antara Jokowi dan AHY untuk membahas situasi politik terkini. “Iya benar, bahas situasi politik terkini,” kata Herzaky. Herzaky mengatakan pertemuan dilakukan dengan saling memahami posisi saat ini antara presiden dan ketum parpol yang berada di luar pemerintahan.

Selain itu, Ahmad menilai pertemuan itu juga bagian dari penyempurna agenda Presiden Jokowi yang sebelumnya menemui Ketua Umum Partai pendukung Prabowo-Gibran. Diketahui, sebelumnya Jokowi juga bertemu dengan Ketua Umum Partai Gerindra yang juga calon presiden Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, dan Ketua Umum Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan. Pertemuan itu berlangsung setelah Jokowi melawat ke negara di Asia Tenggara pada awal Januari lalu.

“Saat itu, sejumlah spekulasi bermunculan, mengapa Jokowi tidak menemui Ketum Partai Demokrat. Maka, pertemuan Jokowi dan AHY hari ini menyempurnakan rangkaian pertemuan itu, sekaligus menegaskan arah keberpihakan dan dukungan politik Jokowi untuk Paslon 02 Prabowo-Gibran,” kata Ahmad.

Tak hanya itu, Ahmad yang juga Direktur Eksekutif Institute for Democracy and Strategic Affairs itu menyoroti sikap AHY yang dinilai sering menyampaikan bahwa partainya serius dalam memenangkan Prabowo-Gibran di Pilpres 2024. Tak hanya AHY, ayahnya yang juga Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY juga menyampaikan komitmennya untuk memenangkan pasangan nomor urut 2 itu.

“Ketegasan AHY dan Demokrat untuk mendukung Prabowo-Gibran ini wajar dan cukup bisa dipahami, mengingat menang atau kalahnya Prabowo-Gibran di Pemilu 2024 ini akan menjadi pertaruhan besar bagi Demokrat, yang selama 10 tahun ini telah memilih berpuasa dari kekuasaan. Menang atau kalahnya Prabowo-Gibran akan  menjawab asa Partai Demokrat,” kata dia.

Menurut Ahmad, jika Partai Demokrat bekerja optimal, Prabowo-Gibran dinilai akan mendapatkan insentif elektoral di basis-basis kekuatan partai tersebut. Ahmad menyebut basis suara Partai Demokrat terutama di wilayah Jawa Timur area Mataraman atau Selatan, lalu Jawa Barat, Banten, Aceh, Sumatera Barat, dan sejumlah titik di Sumatera secara umum.

“Termasuk juga beberapa simpul kekuatan di wilayah Indonesia Timur, khususnya Papua, yang mana politisi Demokrat William Wandik juga menjadi Ketua Umum Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) dan juga Istri mendiang Lukas Enembe yang memiliki akar politik kuat di Papua pegunungan juga kini menjadi Caleg Demokrat,” kata Ahmad.

Selain itu, Ahmad menambahkan, “Dukungan  Demokrat kepada Prabowo-Gibran cukup menentukan, khususnya dalam upaya penguatan target menang satu putaran. Jika Prabowo-Gibran bisa lebih disiplin dan menghindari blunder-blunder dalam sikap dan statemen publiknya, kemungkinan menang satu putaran cukup berpeluang diantisipasi.”

Ahmad beranggapan bahwa sikap Demokrat tersebut juga akan memperoleh keuntungan bagi partai. Selain memiliki magnet politik sendiri, kata Ahmad, sejak Pemilu 2004, Demokrat juga bisa memperoleh efek ekor jas atau coat-tail effect.

“Sebab, karakter swing voters dan DNA pemilih di Indonesia umumnya cenderung digerakkan oleh tren umum dan dinamika isu jelang Pilpres, di mana para pemilih cenderung terbawa ikut-ikutan mendukung Paslon tertentu yang memiliki kemungkinan menang lebih besar dalam Pilpres, serta Paslon yang relatif tercitrakan lebih kuat serta dekat dengan kekuasaan (the ruling power),” kata dia.

Dinamika politik semacam ini, kata Ahmad, seringkali terjadi dan menggeliat di akar rumput sebagai fenomena politik alamiah yang secara sosio-antropologis, terbukti terjadi di Pilpres 2009, 2014, dan juga 2019.

“Karena itu, narasi Demokrat yang belakangan digemakan AHY tentang pentingnya keberlanjutan dan perbaikan, sebagai derivasi nama lain dari perubahan, cukup relevan dan bisa ia kapitalisasi untuk penambahan kekuatan suara di Pemilu 2024 ini,” kata Ahmad.  (Zs/Tmp)

- Advertisement -

Berita Lainnya

Direkomendasikan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti

Terpopuler

Terkini