spot_img
Selasa, Juni 18, 2024
spot_img

Makro Ekonomi AS, Rupiah dan IHSG

Oleh : Edhipranasidhi

KNews.id – Perkembangan data ekonomi makro dari AS dan kondisi geopolitik baru-baru ini sedikit banyak telah mengejutkan penggiat pasar modal dan keuangan dunia.

- Advertisement -

Diawal tahun 2024 ini banyak ekonom maupun pengamat pasar keuangan dan investasi global menilai bank sentral AS (the fed atau the Federal Reserve) akan melakukan pivot (balik badan/arah) dari menaikkan dan menahan suku bunga tinggi menjadi pemotongan suku bunga acuan yang saat ini berada pada level 5,5%. Merela berharap the Fed akan menurunjan suku bunga tahun ini sebanyak enam kali dimulai Maret 2024 melalui dewan rapat kebijakan bank sentral Amerika Serikat (FOMC).

Prediksi akan adanya PENURUNAN suku bunga the Fed tersebut terjadi karena tingginya harapan terhadap keberhasilan the Fed untuk menurunkan tingkat inflasi menuju target 2,0%.

- Advertisement -

Namun prediksi tinggalah prediksi secara FOMC pada rapatnya Maret kemarin malahan menahan suku bunga tetap pada level 5,5% seiring dengan bandelnya inflasi yang ogah turun menuju level target 2,0%. Secara historis inflasi di AS secara tahunan (year-on-year) pada Januari 2024 berada pada level 3,1% untuk kemudian naik menjadi 3,2 di Februari dan naik lagi menjadi 3,5% di Maret didukung oleh naiknya harga bahan kebutuhan pokok dan BBM.

Rendahnya tingkat pengangguran di AS yang berada pada angka 3,8% pada Maret lalu dibandingkan rata-rata tingkat pengangguran jangka panjang pada angka 5,7% juga menjadi salah banyak faktor yang mendorong laju inflasi sulit melemah.

- Advertisement -

Disisi lain dampak perang Russia dan Ukraina serta memanasnya konflik genosida Israel atas Gaza, dan Israel vs Houthi, vs Hesbollah dan kemudian vs Iran juga telah meningkatkan kelhawatiran akan berkurangnya suplay barang komoditas termasuk yang paling utama yaitu minyak bumi yang beberapa minggu terakhir ini keukeuh berada diatas level $85 per barrel (1 barrel = sekitar 158,9 liter).

Untuk kasus Indonesia, per liter minyak bumi jadinya sama dengan $0,535 atau setara dengan 8.622 rupiah (USDIDR16.117 per satu $ pada 12 April 2024). Berdasarkan informasi dari SKKMigas, Pertamina dan Kemen ESDM, dan beberapa sumber lain, perkiraan ongkos produksi Pertalite berkisar antara Rp 5.000 hingga Rp 7.000 per liter, sedangkan untuk Pertamax berkisar antara Rp 9.000 hingga Rp 11.000 per liter. Kondisi naiknya harga minyak bumi akan sedikit banyak memperberat APBN Indonesia dimasa depan.

Kembali kemasalah utama, kondisi bandelnya laju inflasi di AS dan situasi memanasnya geopolitik di kawasan Timur Tengah ternyata berpengaruh banyak terhadap prediksi akan kebijakan pemotongan suku bunga oleh the Fed. Pelaku pasar dan ekonom global sekaramg malah memprediksi the Fed hanya akan menurunkannsukubbinga satu kali saja tahun ini atau bahkan tidak sama sekali dan malahan berpotensi menaikkan suku bunganjika inflasi di bulan bulan mendatang malahan meningkat.

Tetapi jikapun the Fed menurunkan suku bunga, pelaku pasar tampaknya akan menilai bahwanitu dolaikan karena ekonomi AS berpotensi memgalami resesi, dan ini tetap tidak baik untuk sentimen berinvestasi.

All in all, setelah indeks pasar Wall Street, seperti Dow Jones Industrial Average Index (DJIA), S&P 500, dan mencatatkan ATH dalam 52 minggu terakhir, kita tampaknya akan menghadapi koreksi berkelanjutan yang tentunya juga berpengaruh terhadap perkembangan IHSG kita. Dan adagium tahunan sell in May and go Away yang selalu jadi hantu berinvestasi bakalan juga jadi sentimen negatif.

Kita tentunya berharap bahwa ekonomi Indonesia akan baik baik saja walaupun rupiah kita tertekan. Sebagai catatan: rupiah pada 3 Januari 2020 pernah terperosok ke angka 16.300 per satu dollar AS karena pandemik COVID-19.

Berkaca dari kondisi diatas, mungkin saham saham yang berorientasi ekspor masih akan menarik untuk hold atau buy on weaknesses tetapi saham saham perusahaan yang mempunyai hutang dalam denominasi dollar AS sebaiknya mulai dikurangi atau dilepas untuk kemudian dibeli kembali jika IHSG menyentuh angka dibawah 6600.

(Zs/NRS)

Berita Lainnya

Direkomendasikan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti

Terpopuler

Terkini