spot_img
Rabu, Juni 26, 2024
spot_img

Komisi X DPR Ungkap Penyebab UKT PTN Meroket Secara Tak Wajar

KNews.id – Wakil Ketua Komisi X DPR Dede Yusuf mengungkapkan alasan meroketnya biaya uang kuliah tunggal (UKT) perguruan tinggi negeri (PTN). Menurut Dede Yusuf, biaya UKT tersebut mengalami kenaikan secara tak wajar.

Salah satunya, kata Dede, karena adanya kebijakan PTN badan hukum (PTN BH) yang memotong subsidi pemerintah kepada PTN. Kebijakan tersebut, kata Dede, membuat PTN harus mencari dana pendidikan secara mandiri, termasuk melalui UKT.

- Advertisement -

Riuh UKT Mahal, Kemendikbudristek Jelaskan Klasifikasi Mahasiswa Tak Mampu

“PTN BH ini pada dasarnya memotong subsidi pemerintah sehingga perguruan tinggi negeri diwajibkan pendanaannya sendiri. Esensi sebenarnya bagus, supaya perguruan tinggi negeri mampu melakukan persaingan, apalagi saat ini perguruan tinggi swasta sudah banyak yang baik dan bagus bahkan skalanya dunia,” ujar Dede Yusuf.

Hanya saja, kata Dede Yusuf, perguruan tinggi negeri mayoritas diisi oleh para akademisi dan praktisi yang belum sanggup mencari tambahan penghasilan untuk kampus. Hal tersebut berbeda dengan kampus-kampus di luar negeri yang umumnya mampu mendatang penghasilan dengan cara menjual riset dan karya-karya kepada perusahaan-perusahaan.

“Kalau di luar negeri itu dengan cara bekerja sama dalam bentuk riset-riset dengan industri atau menjual karya-karya tulis, jurnalnya kepada industrinya atau pun kepada perusahaan-perusahaan, ini kerja sama menghasilkan uang. Di kita, praktis jurnal-jurnal kita atau riset-riset kita tidak diberdayakan, akibatnya tidak ada penghasilan,” tandas dia.

- Advertisement -

Karena itu, kata Dede Yusuf, perguruan tinggi negeri berupaya mencari pendapatan melalui mahasiswa baik menambahkan kuota jumlah mahasiswa atau membebankan UKT mahal. Sementara itu, pada saat yang sama, kata dia, perguruan tinggi swasta juga mencari calon mahasiswa di tempat yang sama.

“Cara termudah memberikan pendapatan adalah melalui student body atau mahasiswa. Kalau kita lihat perguruan tinggi negeri, mahasiswa mencapai puluhan ribu, padahal dari 4.400 perguruan tinggi yang ada itu mungkin 90 persennya adalah swasta, kurang lebih, swasta ini berebut pasar dengan perguruan tinggi negeri. Padahal, perguruan tinggi ngeri biayanya tidak murah,” jelas Dede Yusuf.

- Advertisement -

Polemik UKT Mahal, Kemendikbudristek Bakal Panggil Rektor

Lebih lanjut, dia menilai kenaikan biaya UKT PTN belakangan ini tidak wajar dan tak masuk akal. Pasalnya, kenaikan UKT-nya lebih dari 100%. Selain adanya action plan dari pemerintah, kata dia, perlu perbaikan manajemen perguruan tinggi negeri agar bisa memaksimalkan potensi-potensi yang ada untuk mendatangkan pendapatan.

“Bayangkan, kalau dengar kemarin, UKT yang tadinya hanya Rp 7 juta loncat ke Rp 33 juta, menurut saya enggak masuk akal, loncatannya itu bukan lagi loncat, tetapi meroket. Kalau naik secara bertahap, setiap tahun ada inflasi, kita hitung inflasinya, berapa sih inflasi kita 5%, 6%, sangat wajar kalau ada kenaikan. Kalau loncatannya lebih dari 100%, enggak masuk akal, menurut saya itu ada yang salah di dalam manajemen kampus,” pungkas Dede Yusuf.

(Zs/BS)

Berita Lainnya

Direkomendasikan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti

Terpopuler

Terkini