spot_img
Sabtu, Juni 22, 2024
spot_img

Komentar Politik dan Saran Kepada Partai NEGORO yang Di-endors Rocky Gerung

Oleh : Damai Hari Lubis – Pengamat Hukum & Politik Mujahid 212

KNews.id – Partai NEGORO Partai Nasional Gotong Royong (Negoro) besutan Aktivis Faizal Assegaf resmi diluncurkan pada Minggu 12 Mei, 2024 saat deklarasi lumayan menjadi pusat perhatian publik di beberapa Medsos, karena sudah dimulai dipublis pada saat pendiriannya pada tanggal 14 April 2024.

- Advertisement -

Tentu juga lantaran NEGORO diendors oleh seorang Rocky Gerung, publik tentunya cukup terperangah, kagum, dan banyak yang memberikan apresiasi.

Setidaknya dengan berdirinya partai NEGORO nampak kesadaran individu-individu anak bangsa dalam berpolitik, sehingga melahirkan kecerdasan sebagai signifikansi/ unsur penting dari SDM Indonesia, yang berawal dari pengamatan atau analisa sebab akibat (kausalitas) daripada dinamika kehidupan sosio & geo politik yang semakin obscur (tidak jelas arah) akibat rekayasa-rekayasa atau diombang-ambingkan oleh penguasa yang memiliki birahi ekstra dengan kekuasaan dan kepentingan politik.

- Advertisement -

Namun sebagian dari publik bertanya-tanya, serius kah NEGORO akan berjuang merangkul kesadaran saudara sebangsa dan setanah air menuju ke “lembaran perubahan”. Selain dan selebihnya oleh sebab:

“Bukti hasil analisis publik, dalam bentuk fakta data empirik, untuk dan sebagai acuan para inisiator NEGORO, bahwa seorang Yusril Ihza Mahendra tokoh nasional eks menteri pada kabinet Gus Dur dan SBY, partainya yang pernah bersinar, lalu cepat meredup hingga Yusril saat ini mirip tokoh oportunis.

- Advertisement -

Selanjutnya Eggi Sudjana ( PPB) dan Ahmad Yani (Masyumi Reborn) kedua tokoh aktivis muslim-nasionalis, saat ini masing-masing partainya nampak lesu darah atau mati suri, selain keluhkan anggaran pendirian serta operasional dan pengembangan partai yang cukup ekstrim, super mahal.

Dan terhadap Ilustrasi komparasi sosok beberapa figur dan anggaran fungsional partai, adalah hal yang logis, dan absah, konsideran antara senioritas ketiga tokoh tersebut jauh diatas ‘usia politik’ seorang Faizal Assegaf.”

NEGORO adalah organisasi politik, sedangkan makna politik (praktis) jika dihubungkan dengan Orspol, secara luas adalah hal yang berhubungan dengan penyelenggaraan Publik pemerintahan dan negara, politik adalah erat kaitannya dengan segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik Pemerintahan.

Dari sisi tinjauan politik paling tidak terdapat dua perspektif fungsi teori politik dalam ilmu politik.

Pertama, sebagai dasar norma atau moral bagi perilaku politik termasuk pola bagi kehidupan penyelenggaraan negara.

Kedua, sebagai alat analisis atau tools of analysis dari fenomena- fenomena politik yang sedang terjadi dan gejala-gejala perkembangannya. Dan tentunya politik yang membutuhkan enerji berfikir manusia dan didalamnya terdapat jalinan hubungan berikut faktor kepentingan hubungan antar manusia (zoon politicon), maka praktis tidak dapat dipisahkan dengan ilmu filsafat.

Menurut teori filsafat politik Plato :

“Filsafat politik sebagai cerminan teori politik, yakni filsafat politik adalah tentang keberadaan manusia di dunia yang terdiri dari tiga bagian yaitu, Pikiran atau akal, Semangat/keberanian dan Nafsu/keinginan berkuasa.”

Sehingga makna berpolitik di Indonesia sebagai umat mayoritas muslim, peran tokoh ulama dan atau ulama yang ditokohkan sangatlah penting (tidak cerdas bila dinafikan) karena memudahkan partai politik mendapatkan kantung-kantung basis perolehan suara konstituen dari ratusan atau ribuan basis dari sang eks murid-murid yang juga akhirnya telah menjadi para tokoh, berikut simpatisan belasan juta dari sang tokoh utama ulama, sehingga tokoh ulama dari sisi ketokohannya, dapat mengontrol kebijakan penguasa dan dapat menunjang keberhasilan sebuah kelompok atau pihak menjadi penguasa dan dapat merepotkan penguasa bila pengikutnya dan simpatisannya menjadi pihak oposisi.

Dan para ulama ditekankan memiliki dua peran yang mana dianggap sangat penting, yang pertama, berdasarkan pada bobot keilmuan yang para ulama miliki, maka para ulama memang sepantasnya sebagai pencerah alam pemikiran umat.

Karena selain dan selebihnya para alim ulama sebagai panutan umat dalam artian khusus keteladanan moral yang di ajarkan sebagai representatif moral aproach, lalu terbiasa disuritauladankan sebagai role model kepada masyarakat.

Oleh karenanya dari sisi perspektif atau pendekatan politik dalam perekrutan kuantitas suara, daripada peran tokoh yang ber-status ulama adalah amat penting, terlebih sosio politik tanah air, historis peran ulama sejak pra sampai dengan pasca kemerdekaan (orde lama orde baru hingga orde reformasi serta kekinian, tidak dapat diingkari, bahwa konstituen (bakal pemilih dan simpatisan) akan lebih signifikan didapat oleh sebab banyaknya ulama dapat direkrut oleh sebuah orspol sebagai signifikansi atau pointer penting.

Atau dengan kata lain, tidak akan tumplek massa NEGORO di setiap daerah di tanah air, hanya oleh sebab partai NEGORO diinisiasi oleh kelompok aktivis tahun 1998, yang nota bene kelompok 98 dimaksud pun sudah berada tersebar, diantaranya telah menjelma menjadi sosok senioren politik pada orspol-orspol besar yang sudah ada sebelum dan pasca 98, maka jika sekedar publis kulit partai, bahwa jurnalis, budayawan serta para akademisi merupakan para individu pembentuk NEGORO.

hal promo ini tentunya tidak otomatis berdampak positif kualitatif terhadap pelaksanaan akses program/ platform partai dan tidak dimaknai sebagai faktor signifikansi (nilai penting), sehingga irrelevan atau keliru jika diasumsikan para tokoh NEGORO sebagai parameter bakal berbuah top kuantitas para konstituen atau bakal signifikan.

Maka statemen politik NEGORO, “Kita adalah kelompok partai baru, partai kecil dalam jumlah manusia, tapi memiliki energi besar, memiliki keinginan besar, memiliki banyaknya gagasan-gagasan yang akan kita perjuangkan,” Maka dalil argumentasi yang demikian bukan jaminan, bahkan jauh dari jaminan NEGORO akan menjadi sebuah partai besar.

Saat ini, publik butuh info valid tentang hakekat daripada dibentuknya Partai NEGORO, selain _kesanggupan dari pembentukan partai dan pengembangan kepengurusannya yang membutuhkan anggaran pembiayaan yang “cukup ekstrim”, serta dihubungkan, bahwa tehadap partai ada norma atau ketentuan tentang batasan yang kompleks, sesuai mengacu kepada sistim hukum terkait batasan kuantitatif kepengurusan di setiap daerah/ provinsi, Kab / Kota),

Selebihnya, patut dipertanyakan selain tenis pendirian dan pengembangan partai, apakah berdirinya NEGORO untuk kumpulkan massa konstituen, guna mencapai cita-cita sesuai platform-nya NEGORO terkait pencapaian “Perubahan Bangsa” sesuai teori tujuan dibentuknya negara oleh bangsa ini untuk meraih kesejahteraan sosial bafi seluruh bangsa, sesuai pembukaan alinea ke-4 UUD. 1945, atau kah hanya radikal fragmatis, (keras mengakar), ingin turut serta dalam persaingan perebutan kursi kekuasaan di Senayan atau di Merdeka Utara (legislatif- eksekutif) ?

Jika punya ambisi hanya politik fragmatis, demi mendapatkan faktor kekuasaan belaka, berarti anggapan pengidola NEGORO bahwasanya sebagai para sosok inisiator yang cerdas pemberani dan idealis di tanah air akan kecewa dan bertambah “aus” seiring keringnya harapan serta cita, lalu terbenam bersama-sama para eks tokoh nalar sehat “walau tetap eksis sekedar sebagai pribadi oportunis”. Karena mereka ternyata melulu merupakan bagian dari sisi keburukan dari teori Plato, NEGORO jelmaan bad politics.

Namun, jika NEGORO hakekatnya tujuan mulia dan koheren dengan suara-suara menuju perubahan identik dengan pola “vox populi vox dei” atau ada agenda mengumpulkan kelompok mayoritas dan orang-orang baik, jujur dan nalar sehat serta pemberani, kemudian inheren/ melekat program baku dan prinsip, bahwa untuk pencapaian idealnya misi partai politik, dengan metode NEGORO bersanding dengan seorang tokoh besar, atau tokoh top ulama, ulama dari para ulama, dan dikenal sebagai tokoh ulama yang nyata-nyata aktif berjuang, baik melalui ucapan dan pernyataan serta konkrit perbuatan, sehingga koheren/ selaras jika ditunjuk tokoh tersebut semisal tokoh ulama, Dr. Habib Rizieq Shihab/ HRS seorang sosok tokoh ulama atau imam besar umat muslim bangsa ini, dengan parameter track record perilaku jatidiri yang konsisten dan konsekuen serta notoire feiten atau sepengetahuan umum, memiliki pengaruh besar, dalam paradigma- perspektif objektif, karena riil, selama ini beliau terus berjuang memerangi sistim rezim yang suka-suka atau menentang perilaku minus rezim dengan sistim hukum dan para sosok kepemimpinan kontemporer, untuk dan demi meraih perubahan rules system serta perubahan SDM/ behavior, menuju idealnya identitas sebuah bangsa, sesuai cita-cita atau harapan daripada seluruh bangsa dan negara di semua belahan dunia pada umumnya .

Jika, sosok tipikal dan karakteristik model HRS dilibatkan secara inheren (erat menempel), maka deskriptif secara kuantitatif para kelompok ulama dan mayoritas simpatisannya akan menjadi bakal konstituen sebuah parpol dan atau ormas, termasuk bergabungnya para intelektual, tidak sekedar Rocky Cs.

Dapat diyakini, setelah inheren dengan para tokoh ulama serta konsisten, dan nasionalis, NEGORO akan terus eksis melaju menuju gerbang perubahan dan terus merehabilitasinya.

Hal idealnya merangkak namun pasti menuju cita-cita perubahan, adalah ketika NEGORO atau kategori organisasi-organisasi lainnya merangkul para tokoh ulama, lalu kaffah atau totalitas patuhi perintah kebenaran, maka mayoritas ummat akan menyertakan dukungan moril, bahkan support materil, dengan loyalitas yang tinggi, ditambah jika landasan berpikir partai NEGORO termonitoring elok dan teridentifikasi sesuai dengan praktiknya di kancah medan politik, NEGORO berbuat serius menyuarakan hakekat kebenaran tidak sekedar retorika, lantang bersuara sesuai filosofi ” salus populi supreme lex esto,” bahwa sesungguhnya hukum yang tertinggi adalah melindungi kepentingan rakyat/ bangsa. Tentunya NEGORO mendapatkan spesial gelar politik identitas yang bakal presisi, berkesesuaian dengan perspektif berfikir positif dan objektif dari publik, sehingga akhirnya banyak statemen tokoh publik yang isinya menyatakan, “PARTAI NEGORO BERIDENTITAS POLITIK IDEAL YANG LUAR BIASA KAPABEL, berani, cerdas, sehat, profesional dan proporsional, serta jujur.

Sehingga disimpulkan jika sebaliknya NEGORO inkonsisten atau tidak inheren dengan teori perekrutan melalui pendekatan tokoh (ulama) walau bertujuan mulia, maka partai apapun, terlebih konon inisiatornya hanya seorang sosok vokal angkatan 98, tentu tidak akan jaya, hanya akan dikerubungi semut penikmat bakal bangkai kawan dan teman bernyali pragmatis, walau dapatkan keuntungan yang cukup semusim, para figur politik pragmatis terus adventuring, tak peduli walau tubuh dan nafas sudah terkontaminasi aroma busuk sistim “kelanjutan”, namun tetap berwajah tebal muka. Dan kesemua hal lika-liku politik demikian sudah banyak nampak dari historis politik tehadap beberapa figur aktor intelektual politik dan kroni, yang mimikri identitas menjadi pelacur politik.

Maka, rekomendasi bagi partai sekecil apapun, maupun partai pemula sekali pun, jika koheren dan inheren terhadap sosok tipikal dan karakteristiknya mirip-mirip seorang HRS. lalu beliau percaya dan mau menerima sebagai “ketua badan pembina tunggal,” , dan bila diilustrasikan partai idola tersebut yang badan pembinanya tunggal, adalah partai NEGORO, maka konsekuensinya ketika kelak NEGORO telah menjadi besar, tidak dapat melupakan dan mencampakan tokoh pembesar partai, seperti deskripsi yang ada pada beberapa data empirik jas merah, sebuah tragedi Gus Dur dengan keponakannya Tuan Muhaimin atau Amin Rais dengan eks besannya Tuan Zulfikar Hasan.

Sehingga oleh sebab hanya sementara ingin mencapai tujuan perubahan, maka teori mesti terbalik daripada partai PAN dan PKB. NEGORO mesti memberikan hak tunggal prerogatif atau kaffah, sebagai antisipasi terulangnya peristiwa politik tragis dan khianat, sehingga tidak terjadi peristiwa “model Gus Dur yang ‘diberhentikan’ oleh keponakannya Tuan Muhaimin, namun Gus Dur dan Amin Rais punya kekuatan mutlak memecat Muhaimin Iskandar – Zulhas”. Sehingga dinamika pergerakan tetap dinamis namun konsisten berjalan di atas rel demokrasi, tentunya dalam batasan tertentu, jelmaan demokrasi terpimpin ala pancasila.

Kembali, kepada tekad sejak awal, jika sinyal NEGORO dimulai klise, hanya sekedar “mohon doa restu dan dukungan, kepada sang imam atau para ulama dan para tokoh,” yakni para ulama yang sungguh mencintai bangsa ini dan mengasihi sampai tulang sumsum mereka. Tentu panggang jauh dari api. Bahkan walau hasrat atau “niatan baik” dari para aktivis dan para ilmuwan yang ada di NEGORO, atau apapun partai baru atau partai lama yang anjlog suara, justru eksistensi partai dimaksud, butuh penilaian ummat terhadap model partai tipikal bersangkutan, hajat mereka justru akan menjerumuskan diri-diri mereka sendiri, serta bakal menambah kegalauan para nalar sehat yang akan terlambat sadar, bahwa mereka justru akan ditarik oleh super magnet, lalu terjerembab ke jurang pola pikir yang hanya berinisial cukup sekedar turut atau dapat sama-sama mencicipi aneka remah-remah yang dihidangkan tuan-tuan “berkelanjutan”, lalu mereka menikmatinya secara tak sadar, _namun penuh kesadaran, hanya lupa atau melupakan, karena manisnya potongan kue-kue warna warni aroma rasa, yang “disodorkan oleh yang potensial dan tetap ingin berkuasa berkelanjutan”

Pada akhirnya, tentu muncul kunci pertanyaan dari para deklarator atau tokoh partai, “bagaimana jika sudah diyakini, beliau sang tokoh ulama tetap menolak ?”.

Solusinya adalah, dengarkan saran perjuangan darinya se-radikal apapun lalu jalankan rame-rame ! Mudah-mudahan walau terhadap PARTAI SELEVEL AYAM BARU MENETAS SEMALAM tidak perlu mencapai target turut serta pemilu legislatif dan pilpres, justru akan terjadi momentum “sulap politik,” karena tiba-tiba sudah berada dalam gedung di Senayan dan di Jalan Merdeka Utara, tanpa pileg dan tanpa ikut pilpres, KEMUDIAN HASIL TEORI SULAP POLITIK DAPAT SECARA ELEGEN MERINTIS PENATAAN REPUBLIK, UNTUK MENUJU SERTA MENCAPAI CITA-CITA KESEMUA PARA PAHLAWAN TANPA TERKECUALI, SEBAGAI PARA PENDIRI NKRI.

Bahkan prinsipnya untuk mencapai target misi PERUBAHAN DARI SISTIM REZIM KONTEMPORER maka “teori sulap politik” wajib diyakini akan terealisir KARENA SEBUAH PERJUANGAN ANTARA HAK KEPADA YANG BATIL, dan bukan hanya terhadap organisasi partai/ Orspol yang sudah terbentuk dan berjalan, dalam konteks antara hak dan batil, maka kelompok organisasi massa atau kelompok masyarakat biasa yang eksis tanpa akte autentik sekalipun, namun nyata serius dalam giat juang, dan tidak berkarakter aktivis pragmatis, melainkan istiqomah serta radikal menuju cita-cita PERUBAHAN, dapat mencapai kemenangan menggapai tujuan PERUBAHAN, dengan syarat dalam pergerakannya harus tetap dalam kondisi koheren dan inheren terhadap para sosok tokoh ulama besar yang notoire feiten jati dirinya role model.

Sebaliknya, jika tidak koheren dan inheren siapapun sosok individu peng-endors partai dimaksud, akan menjadi mimpi panjang para penghuninya yang tak bakal terwujud selain tetap mengekor pada yang “berkelanjutan”.

Penutup artikel, semoga pemahaman sama positifnya dari sahabat aktivis juang inspirator PARTAI NEGORO terkait makna vox populi vox dei dan salus populi supreme lex esto, untaian kalimat yang merupakan urgensi subtansial atau inti perjuangan menuju, meraih makna hakiki perubahan rules system and behavior, perubahan sistim hukum dan pelaku penegakannya/ attitude SDM “. Sehingga tercapai mimpi yang sama daripada seluruh bangsa-bangsa di dunia, kehidupan sosial dan sejahtera, harmonis, adil dan beradab.

(Zs/NRS)

Berita Lainnya

Direkomendasikan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti

Terpopuler

Terkini