spot_img
Rabu, April 17, 2024
spot_img

Hujan Berhenti Saat MotoGP, BMKG Sebut Bukan Karena Pawang

KNews – Hujan berhenti saat MotoGP, BMKG sebut bukan karena pawang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) ikut bersuara perihal ramainya pemberitaan mengenai aksi Rara Istiani Wulandari sebagai pawang hujan saat gelaran MotoGP Mandalika.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, mengungkapkan jika adanya pawang hujan pada MotoGP Mandalika yang diadakan Minggu, 20 Maret 2022 kemarin hanyalah bagian dari kearifan lokal.

- Advertisement -

Guswanto mengatakan jika secara ilmiah pekerjaan yang dilakukan oleh pawang hujan tersebut dinilai sulit untuk dijelaskan secara logika dan akal sehat.

“Ya sebenarnya kalau dilihat pawang hujan itu adalah suatu kearifan lokal yang dimiliki masyarakat. Secara saintis itu sulit untuk dijelaskan,” katanya pada Senin, 21 Maret 2022 dilansir dari Suara.

- Advertisement -

Guswanto sendiri menjelaskan bahwa pihak dari BMKG sebelumnya telah memberikan informasi terkait prakiraan cuaca di Mandalika untuk 3 hari pada saat pelaksanaan MotoGP.

Menurut BMKG, untuk Pulau Lombok khususnya wilayah Mandalika memang akan diguyur hujan dengan intensitas bervariasi dari hujan ringan hingga lebat.

- Advertisement -

“Kalau kita lihat fenomena kemarin sejak 3 hari yang lalu tanggal 17, 18, 19 itu sudah diprakirakan BMKG bahwa di Mandalika itu akan terjadi hujan dengan intensitas ringan sampai lebat,” ungkapnya menjelaskan.

Guswanto juga menambahkan jika hujan lebat dengan disertai petir sudah diprakirakan akan terjadi di kawasan Mandalika saat ajang MotoGP tengah berlangsung.

Hal tersebut dikarenakan adanya bibit sikontropis 93f yang dampaknya dapat memberikan potensi pertumbuhan awan di Mandalika.

“Dan buktinya kan dari awal pawang itu sudah bekerja, tapi kan enggak berhenti juga. Artinya itu, jadi sebenarnya kemarin waktu berhentinya itu bukan karena pawang hujan karena durasi waktunya sudah selesai,” tambahnya.

Maka dari itu, Guswanto mengingatkan masyarakat bahwa adanya pawang hujan dalam ajang MotoGP Mandalika kemarin cukup dianggap sebagai kearifan lokal, jangan dicampuradukan dengan hal-hal bersifal ilmiah atau sains.

“Kalau dilihat prakiraan lengkap di tanggal itu memang selesai di jam itu. Kira-kira jam 16.15 itu sudah selesai, tinggal rintik-rintik itu bisa dilakukan balapan kalau dilihat dari prakiraan nasional analis dampak yang kita miliki,” tuturnya.

Diketahui, video Rara sebagai pawang hujan menjadi viral di dunia maya dan menimbulkan pro kontra di masyarakat. Sebagian ada yang merasa terhibur, namun sebagian lainnya malah merasa malu.

“Sebenarnya kalau cerita tentang pawang hujan itu adalah kearifan lokal yang mereka miliki dan itu tidak bisa dicampuradukan antara sains dan kearifan lokal,” kata Guswanto memungkas.

Dalam video yang beredar, perempuan yang kerap dipanggil Mbak Rara itu tampak mengenakan helm putih sedang memegang gong kecil yang dibunyikan mencoba mengusir hujan yang tengah berlangsung.

Pemandangan tak biasa itu pun menarik perhatian pada penonton dan pemirsa yang menyaksikan MotoGP di rumah, serta para pemain dan tim pembalap yang berlaga di Mandalika. (RKZ/hops)

Berita Lainnya

Direkomendasikan

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti

Terpopuler

Terkini