spot_img
Selasa, Juni 18, 2024
spot_img

Dulu Indonesia Jaya dgn Satelit2nya, kini dgn StarLink jadi Tidak Berdaya

Oleh : Dr. KRMT Roy Suryo – Dr. KRMT Roy Suryo, Pemerhati Telematika, Multimedia, AI & OCB Independen

KNews.id – Luar biasa. Tak lama setelah menulis “Antara Starling & Bahaya StarLink, bak Ndoro Tuan & Bedinde” kemarin, HP saya “tang tung tang tung” terus menerus, menandakan banyaknya notifikasi pesan masuk, baik Japri langsung maupun melalui beberapa WAG yg saya ikuti dan memuat tulisan tsb. Secara umum rata2 ingin memastikan apakah bisa benar2 bahaya jika pola seperti StarLink itu dibiarkan masuk dan merusak ekosistem bisnis Telekomunikasi dan internet Indonesia.

- Advertisement -

“Opo rak bahaya tah …?” demikian contoh salahsatu pesan yg saya terima menyusul dimuatnya tulisan tsb di berbagai media yg sudah memuatnya (terimakasih). Ya memang bahaya kalau Rezim ini tampak sekarang hanya senang menjadi Kernet (baca: Calo) dari para Investor asing yg hanya mau menjalankan bisnisnya disini tanpa mau menggerakkan Ekonomi lokal, minimal Tenaga kerja bangsa sendiri.

Lihat saja pabrik2 yg beroperasi dgn merusak alam dimana-mana, para pekerja kasarnyapun harus “diimpor” misalnya dari China. Padahal sudah banyak Video2 Fakta hal ini diungkap, tetapi masih saja dikatakan “Hoax” (?) oleh Rezim ini yg terkesan melindungi dan malah jadi centeng mereka.

- Advertisement -

Kalau yg datang itu Pekerja yg berkemampuan tertentu masih bisa dimaklumi, tetapi sudah banyak terbukti bahwa mereka adalah unskill-labor alias Pekerja kasar yg malahan lebih tidak terampil dibandingkan kinerja TKI kita, bahkan sampai (maaf) BAB-pun mereka banyak yg tidak terlatih, alias sembarangan dimana-mana. Inilah yg menimbulkan kericuhan bahkan sampai kerusuhan di beberapa pabrik tempat mereka didatangkan, karena terjadi ketimpangan sosial dan ekonomi antara TKA (mayoritas China) dan TKI. ironisnya RUU Cilaka, kini jadi UU Ciptaker tampak tidak berdaya dan malah lebih menguntungkan bagi mereka.

Wajar jadinya kalau banyak komentar dari masyarakat yg masih punya derajat kewarasan yg tinggi utk mewaspadai hal ini, tak sedikit pula diantaranya yg mengkhawatirkan akan dibawa (baca: dijual) kemana lama2 bangsa ini kalau terus2an begini. Karena suara yg masih kritis selalu dikatakan dgn sebutan kaum “nyinyiris”, bahkan tidak jarang dituduh separatis atau bahkan ada yg dicap teroris, padahal sesungguhnya mereka2 justru yg masih memiliki jiwa nasionalis dibanding para kernet berbaju pejabat di Rezim ini yg jelas2 Oportunis dan bahkan terhadap penduduk sekitarnyapun bertindak sadis.

- Advertisement -

Kembali ke soal Satelit, saya tidak akan pernah lupa peristiwa 48 (empat puluh dellapan) tahun silam, tepatnya di hari Kamis, 08 Juli 1976. Saat itu masih kelas 3 SD / Sekolah Dasar Netral di Jogja, mendadak pelajaran dikosongkan utk menonton bareng2 berita dari TVRI melalui sebuah Pesawat Televisi Kabinet, alias “Jengki” kalau istilah barang antik sekarang yg berukuran 20 inchi dan tentu saja masih berupa TV Tabung Sinar Katoda Hitam Putih. TV yg sebelumnya terletak di Ruang Kepala sekolah tsb dipindahkan ke Ruang Aula sekolah agar bisa memadai ditonton oleh sekitar 250-an siswa dari Klas 1 sd Klas 6, seru.

Acara “NoBar” kalau istilah sekarang ini tempo doeloe malah seringnya dilakukan bilamana ada Siaran Langsung Pertandingan Tinju Muhammad Ali yg disiarkan melalui TVRI. Jadi ketika saat itu Seorang reporter TVRI bernama Ishadi Soetopo Kartosapoetro, yg akhirnya dikenal sebagai Pak Ishadi SK, mantan DirJen RTV yg kini di TransTV (setelah sebelumnya di TPI dan tentu saja TVRI melaporkan sebuah peristiwa bersejarah dari Cape Kennedy, sekarang bernama Cape Canaveral, peluncuran SKSD / Sistem Komunikasi Satelit Domestik bernama Palapa A1 menggunakan Roket Delta 2914.

Masyarakat patut sangat berbangga, karena SKSD Palapa ini menempatkan Indonesia sebagai negara ke-3 (tiga) di seluruh dunia yg mengoperasikan Satelit GSO (Geo Stationer Orbital). Nama Palapa secara filosofis dipilih oleh Presiden Soeharto saat itu sebagai perwujudan “Soempah Amoekti Palapa” dari Mahapatih kerajaan Majapahit Gadjah Mada yg bertekad tidak akan makan buah Palapa sebelum Nusantara bersatu th 1258 Saka (1336 Masehi).

Satelit Palapa A1 beroperasi hingga tahun 1983 di Orbit 83° BT sebelum digantikan Satelit Palapa A2 tgl 10/03/1977 yg berada di Orbit 77°BT. Secara teknis jenis Satelit Palapa A ini Mengusung 12 Transponder yg mayoritas digunakan utk kepentingan sambungan telepon dari Sabang sampai Merauke dan juga pancar ulang Siaran2 RRI & TVRI.

Semenjak Indonesia memiliki Satelit Palapa B1 pada 18/06/1983 di Orbit 113°BT yg berkapasitas dua kali pendahulunya (24 Transponder), terlebih saat memiliki Satelit Palapa B2P (P singkatan dari “Pengganti” karena Palapa B2 sempat hilang saat diluncurkan, sebelum akhirnya diambil kembali dan menjadi Palapa B2R), satelit jenis Palapa B ini menjadi “Hot Bird” di Asia karena negara2 tetangga belum memiliki satelit sendiri seperti sekarang.

Tak heran Palapa B2P laris manis disewa stasiun2 TV Asia (saat itu) seperri RTM1,2 dan TV3 (Malaysia), ABS-CBN (Philipina), BBTV, ArmyTV (Thailand), hingga Ch.7 & Ch.9 (Australia). Sejak inilah juga popularitas Antena Parabola menjadi marak di Indonesia, karena orang bisa menyaksikan tidak hanya siaran2 TVRI tetapi juga TV-TV LuarNegeri yg menyewa Transponder Palapa B2P.

Teknologi terus berkembang, kini negara2 tetangga Asia sudah juga memiliki Satelitnya sendiri2, misalnya MeaSat (Malaysia), Thaicom (Thailand), InSat (India), Agila (Philipina), Chinasat, KoreaSat termasuk Amerika & Pasifik yg menempatkan Satelitnya di Orbit diatas Indonesia (PanamSat, Apstar, Asiasat dsb).

Satelit Palapa pasca Satelindo diakuisisi Indosat dan Indosat dijual praktis sudah “hilang” dari haribaan Pertiwi, makanya Telkom kemudian meluncurkan Satelit Telkom (yg kini sudah sampai Telkom-4 di Orbit 108.2°BT). Selain itu Indonesia juga masih memiliki Satria-1 dan Satelit Merah Putih 2 di Orbit 113°BT. Fungsi satelit GSO juga sekarang banyak utk akses Data Internet guna memperkecil Blank Spot diwilayah2 terpencil, terutama 3T: Tertinggal, Terdepan, Terluar disamping tetap utk siaran TV, Radio dan Multinedia lainnya.

Ironisnya, justru sebagai negara ketiga paling awal yg memiliki Satelit GSO (1976) dan Satelit tsb laku keras disewa oleh negara2 tetangga sehingga secara ekonomis sangat menguntungkan hingga kita pernah menguasai Orbit Asia bahkan melebar sampai Australia & Pasifik, kini Indonesia malah hanya seperti jadi penonton dari teknologi Satelit LEO (Low Earth Orbital) sebagaimana teknologi StarLink yg telah saya paparkan sebelumnya, termasuk semua bahayanya.

Lebih memalukannya lagi Rezim ini tampak tak ada marwahnya utk hanya bisa sekedar menjadi Kernet / Calo teknologi tsb, laksana “Bedinde sowan dihadapan Ndoro Tuan” spt yg saya jelaskan detail kemarin. Kalau saja sang Mahapatih Majapahit Gadjah Mada tahu kondisi sekarang, mungkin beliau bisa berSumpah lagi sebagaimana 688 tahun silam, atau malah bisa juga justru meneriakkan Sumpah Serapah melihat kelakuan Rezim ini yg samasaja menjual bangsa …

(Zs/NRS)

Berita Lainnya

Direkomendasikan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti

Terpopuler

Terkini