spot_img
Minggu, Februari 25, 2024
spot_img

Dirty vote & Structural Crimes Meyakinkan Publik Pasca Pilpres Bakal Chaos

Oleh : Damai Hari Lubis – Pengamat Hukum & Politik Mujahid 212

KNews.id – Pandangan publik sebagian besar sudah blak – blakan ( transparansi ) menyatakan 02 akan menang di pemilu pilpres 2024. Hampir semua secara audience pendukung menyatakan itu, baik dari kubu 01, 02 dan 03.

- Advertisement -

Namun sebagian besar masing – masing kubu melalui media sosial menyatakan paling unggul adalah jagoan mereka (psywar).Terlebih 01 bisa buktikan kemarin diluar stadion JIS yang full mereka hadiri dengan 5 – 6 jutaan orang walau masih dibawah aksi massa 212 pada 2 Desember 2016.

Terekam obrolan ” warung kopi para pendukung ” 01 dan 02, alasan menyatakan akan dimenangkan 02 karena kesepakatan kecurangan dilakukan oleh pejabat publik dan aparatur negara dan korporasi ( kekuatan oligarkis ) atau struktural pejabat publik lalu legitimed melalui regulasi ( di legitimasi ) berubah menjadi criminal function ( fungsi kejahatan ), klop dan optimal karena komplit pakai telor, melibatkan banyak pihak penguasa, pengusaha dan Tim ( masyarakat ) lalu menjadi kelompok ( structural crimes committed by public officials ) sesuai istilah dalam undang – undang Pemilu lalu umum digunakan sebagai yang dikenal pelanggaran yang struktural, sistematis dan masiv ( TSM ).

- Advertisement -

Adapun tuduhan publik tidak mengada – ada, karena dua kejahatan diantaranya sudah diakui oleh KPU. Bahwa ada :

1. Tindak ” Kejahatan pemilu ” di Taipei dengan pola coblos pemilu pada Desember 2023.

2. Suara bodong sejumlah 1, 2 juta suara

Walau beda hitungan temuan KPU dan temuan masyarakat disebabkan beda ” asal usul ” kalkulatornya, karena publik mengklaim dirty vote ( suara bodong/ Kotor ) 54 Juta suara, lalu KPU. Enggan memberikan kejelasan yang transparansi walau sudah diminta melalui surat oleh publik.

Kemudian diantara masyarakat yang estimed pemilu 2024 bakal curang, tidak sedikit meyakini akan terjadi chaos, karena rata – rata tidak percaya kepada pejabat publik, walau masih ada upaya hukum JR. ( Judicial Review ) di MK. namun umumnya publik apatis, tidak percaya kepada MK. Terlebih mengingat perilaku Anwar Usman yang bad charachter, watak yang cukup mengerikan dan model tipikal Anwar, Publik meyakini tetap ada, karena prediksi publik yang ‘ masih bercokol ” merupakan seringgit dua kupang.  (Zs/NRS)

- Advertisement -

Berita Lainnya

Direkomendasikan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti

Terpopuler

Terkini